Shalat merupakan ibadah yang ditujukan kepada sang pencipta.

Tak cuma Umat Islam mengenal Shalat 5 waktu sebagai ibadah rutin.
Dalam Al Kitab, umat Yahudi disebutkan juga mengenal shalat 3 waktu.
Umat Kristen purba juga melakukan shalat 3 waktu.

Ini tak aneh, karena dalam tradisi Islam, Nabi-nabi terdahulu dikenal telah melaksanakan shalat sebagai Perjanjiannya dengan Tuhan (selain Khitan).
Islam mengenal kisah meninggalnya nabi Sulaiman yang terjadi saat beliau sedang melakukan shalat.
Namun ajaran shalat dan Khitan sebelum datangnya Islam ini lambat laun hilang/ sengaja dihilangkan.

Akhirnya Islam diturunkan untuk diajarkan lagi Shalat (dan Khitan) seperti halnya Nabi-Nabi sebelumnya.

Hingga pada suatu kita menjumpai adanya aktifitas Shalat Tujuh Waktu berbahasa Arab yang dilakukan oleh komunitas Kanisah Orthodox Syria (KOS).
Hal ini tentu masih asing baik di mata umat Islam maupun Kristen tradisi gereja Reformasi dari Barat, baik Protestan, Baptis atau aliran-aliran Pentakosta serta Kharismatik (Teguh Hindarto)

Bagaimana model Shalat ini dan apa bedanya dengan shalat kaum muslim?

Terminologi
Kristen Ortodox Syria = KOS = Syriac Orthodox
Shalat Tujuh waktu = Sab’u ash shalawat

Gereja Orthodox Syria (Syriac Orthodox Church) bermarkas besar di Damaskus sejak 1959.
merupakan Cabang dari Gereja Orthodox Oriental (Bedakan dengan Gereja Orthodox Timur).

Tata Cara Shalat Tujuh Waktu
Berikut ini contohnya yang mudah kita peroleh channel Youtube milik Ahmed Kareem .

Qiraah Kristen Orthodox Syria, channel yang sama.

Seruan untuk sembahyang;

Bismil Abi wal Ibni wa Ruhil Quddus Ilahu Wahid Amin. Halumma nasjud wa narka’ lil Malikina wa Ilahina, Halumma nasjud wa narka’ lil Masihu Malikina wa Ilahina, Halumma nasjud wa narka’ lil Masihu Hadza Huwa Malikina wa Ilahina
Artinya: (Marilah kita sujud dan rukuk kepada Allah dan raja kita Marilah kita sujud dan rukuk kepada Almasih, Allah dan raja kita Marilah kita sujud dan rukuk kepada Almasih, yang sebenarnya Allah dan raja kita)

Berdiri – sujud – berdiri lagi.
Terdengar bahwa bacaan mereka memakai bahasa Arab.

Landasan Shalat dalam Al Kitab
SHALAT 3 WAKTU ; SHALAT YAHUDI dan KRISTEN MULA-MULA (Gereja Purba)
Shalat dalam bahasa Aram dinamakan Tselota.

Sholat Yahudi dalam Perjanjian Lama;
Nabi Daniel:

“Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem. Tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya.” (Daniel 6:10)

Nabi Daud

“Di waktu petang, pagi dan tengah hari aku cemas dan menangis, dan Ia mendengar suaraku.” (Mazmur 55:18)
“Tujuh kali dalam sehari aku memuji-muji Engkau, karena hukum-hukum-Mu yang
adil.” (Mazmur 119:164)

Yesus sendiri sebagai seorang Yahudi tentulah melakukan shalat 3 waktu.

Bambang Noorsena, tokoh KOS yang juga tokoh Dialog Antar Kerukunan Umat Beragama menyebutkan,

“Umat Kristen mula-mula jelas berakar pada adab keyahudian, sehingga tidak dapat disangkal bahwa mula-mula sekali umat Kristen juga melakukan sembahyang 3 kali dalam sehari.
Mazmur 55:18 dengan jelas mencatat tiga waktu sembahyang Yahudi, yakni pada waktu petang, pagi dan tengah hari. Dalam bahasa lbrani, tiga waktu sembahyang tersebut adalah: ‘erev we boker we tsohorayim (Arab: masya’an wa shabhan wa dhuhran).

Dalam kitab-kitab doa Yahudi, waktu petang (‘erev) sering disebut juga ma’ariv (Arab: maghrib)”

Perubahan Jumlah dan Arah SHALAT Umat Kristen (Orthodox)
Selanjutnya, oleh umat Kristen, penghayatan shalat mempunyai penafsiran tersendiri;

“..waktu-waktu doa Yahudi itu dipelihara, akan tetapi dengan penghayatan tersendiri yang berpusat pada Kristus (christocentris), khususnya merujuk kepada kurban akbar-Nya di Kalvari.”

Shalat Tujuh Waktu, didasarkan atas “penghayatan jam-jam peristiwa Yesus, khususnya Jalan Salib-Nya”

Arah Shalat juga berubah
Bambang Noorsena melanjutkan;

“(Pasca penghancuran Jerusalem tahun 70 M), Umat Yahudi tetap berkiblat ke sana (Jerusalem) hingga sekarang, sambil meratapi ke arah tembok sebelah Bait Allah yang masih tersisa tersisa (Arab: Haithun al-Mubakka, Tembok Ratapan).

Lalu Umat Kristen memberi penafsiran sendiri atas Markus 13:1-2 dan Yohanes 4:21:

“Saatnya akan tiba”, kata Yesus kepada wanita Samaria di sumur Yakub, “kamu akan menyembah Bapa, bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem” .

..Berdasarkan refleksi mendalam yang diterangi oleh Roh Kudus, umat beriman mulai berpikir Yesus sendirilah kiblat yang sejati”.

Dalam perkembangannya, akhirnya diputuskan bahwa arah Kiblat adalah ke arah Timur.
Siapakah Umat beriman yang berjasa dalam Merubah Jumlah dan Arah Shalat?
Ini yang akan kita telusuri dalam tulisan ini.

PERKEMBANGAN JUMLAH DAN ARAH SHALAT KRISTEN ORTHODOX BERBAHASA ARAB
Berikut ini sejarah yang disusun secara Kronologis;
Tahun 6 SM – 30 M. Masa Hidup Yesus.
Masyarakat Yudea kala itu memakai bahasa Ibrani, Aramaic dan Yunani.

Tahun 90 M. Klemens ar-Rumani (Paus Klemens I atau Clemens Romanus, uskup Roma ke-4) menekankan tentang pentingnya Shalat

“Kebangkitan rohani kita adalah dengan melaksanakan ibadah harian pada waktu-waktu yang telah ditetapkan”.

Clemens Romanus berasal dari Yunani yang tentunya memakai bahasa Yunani.

Tahun 95 M. Kitab Didakhe/ Didache (Kitab Ajar yang diklaim dari 12 murid Yesus) menganjurkan agar dalam sembahyang kita doa Bapa Kami dibaca 3 kali dalam sehari.

Manuskrip Didakhe berbahasa Yunani ditemukan pada tahun 1873 oleh Philotheos Bryennios, Sedangkan yang berbahasa Latin ditemukan pada tahun 1900 oleh J. Schlecht.
Belum memakai bahasa Arab.
Masa ini sudah mulai dilakukan penerjemahan Al Kitab ke dalam bahasa Syria (Peshitta)

Tahun 150-215 M, Klemens al-Iskandari (Titus Flavius Clemens) juga menekankan:

” … waktu-waktu yang ditetapkan para bapa gereja kita, yang kita pelihara dengan melaksanakannya secara rutin dari hari ke hari”

Titus Flavius Clemens berasal dari Yunani.
Dia dihormati sebagai orang suci dalam Kekristenan Koptik, Kekristenan Ethiopia dan Anglikan

Tahun 327 M, menyebarnya Kristen Orthodox ke Ethiopia.

Tahun 379 M, Mar Basilius Al-Kabir (Sto. Basilius Agung/ St. Basil the Great) dalam karya tulisnya, tidak lagi mengikuti pola ibadah sinagoge-sinagoge yang menghadap ke Baitul Maqdis, dengan penghayatan yang baru yang bersifat kristosentris.

St. Basil the Great lahir dan besar di Kapadocia Turki, wilayah Romawi. Kemungkinan besar berbahasa Yunani.

Willie dalam tulisannya yang berjudul “Sholat, Sebuah Tradisi Penyembahan Kristen Sejak Zaman Purba” menyebutkan bahwa salah satu tata cara shalat tujuh, salah satunya membaca doa Mar Basilius Al-Kabir.

“Berdiri tegak menengadahkan tangan dengan membaca doa dari St. Basil the Great

.

Tahun 420 M, seorang Santo Aneh, Simeon Stylites, beribadah dengan cara berdiri di atas pilar tinggi (Stylite);
Edward Gibbon dalam History of the Decline dan Fall of the Roman Empire menggambarkan kehidupan Simeon sebagai berikut:

..Dia kadang-kadang berdoa dengan sikap tegak, dengan tangan terentang dalam bentuk salib..


Ilustrasi model ibadah Simeon.
Model ibadah Simeon ini sempat berpengaruh beberapa tahun kemudian di daerah Levant (Syria, Jordan, Palestina)

Dia diperingati sebagai seorang suci di:
Gereja Ortodoks Koptik
Gereja Ortodoks Timur dan
Gereja Katolik Timur

Tahun 451 M Konsili Khalsedon
Ortodoks Oriental menolak dogma dari Konsili Khalsedon.

Tahun 518 M, markas KOS yang non-khalsedon pindah dari Antiokhia ke Gereja Orthodox Koptik Alexandria Mesir, karena kaisar Justin I berniat mnyeragamkan ortodoksi Kristen Khalsedon di seluruh kekaisaran.
KOS saat ini dibawah kepemimpinnan Severus of Antioch (Severus of Gaza)

527 M, penyebaran Kristen Orthodox dari Ethiopia ke Yaman lalu ke Hijaz (Jazirah Arab).
Dibangunnya Gereja Orthodox Al Qulays di Sanaa Yaman.

Tahun 610–632 M, Masa datangnya Islam di Mekkah – Madinah.
Umat Islam diajarkan Shalat menghadap kiblat Jerusalem, bukan ke Gereja Orthodox Al Qulays Yaman atau Gereja Orthodox lain di Levant.

Tahun 637 M, Jerusalem dan Antiochia ditaklukkan oleh Arab-Islam.
Mulai masuknya bahasa dan budaya Arab ke wilayah Levant.

Tahun 1048 M, Skisma Timur-Barat; Skisma Besar antara gereja Katolik dan Orthodox Timur.
Tahun 1098 M, Antiokhia ditaklukkan oleh pasukan Salib 1.

Tahun 1160 M, Markas KOS pindah ke Biara Mor Hananyo (Deir al-Za`faran/ Deyrulzafaran Monastery), Mardin, Turki.

Tahun 1299 M, masa berdirinya Kekaisaran Ottoman.
KOS tetap bermarkas di Mardin Turki.
Bahasa resmi adalah Turki Ottoman, sementara bahasa Arab hanya digunakan untuk ibadah Islam.

Tahun 1933 M, Markas KOS pindah ke Hom, Syria saat runtuhnya kekuasaan Ottoman.
Pemindahan dilakukan oleh Ignatius Aphrem I Barsoum, Patriarkh Ortodoks Siria ke 120.

Tahun 1959 M, Markas KOS pindah ke Damaskus.

Tahun 1979 – 2013 dalam buku The Eticon, Mar Gregorius Yuhanna Ibn al-Ibri (uskup agung Ortodoks Syria di Aleppo) mendeskripsikan waktu-waktu shalat, makna dan urutan-urutannya dalam bahasa Arab.
1. Shalat al-Masa’ atau al-Ghurub (shalat maghrib);
2. Shalat al-Naum (shalat malam);
3. Shalat Nishfu al-Lail (shalat tengah malam);
4. Shalat Subuh (shalat subuh);
5. Shalat Sa’at ats-Tsalitsah (shalat jam ketiga);
6. Shalat Sa’at as-Sadisah (shalat jam keenam);
7. Shalat Sa’at At-Tasi’ah (shalat jam kesembilan).

Tahun 1990-an, ajaran shalat Tujuh Waktu berbahasa arab masuk ke Indonesia. (Teguh Hindarto)

Pandangan KATOLIK tentang Shalat Tujuh Waktu
Situs Katolisitas asuhan Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S* menulis tentang Shalat 7 Kali sebagai berikut;

4. … Namun sekarang berdoa 7 kali ini tidak diharuskan bagi kaum awam, sekalipun tentu saja, jika ada yang mau mengikutinya, ini sungguh merupakan kebiasaan yang sangat baik.

Yang memang dianjurkan oleh Gereja adalah berdoa minimal di pagi dan sore/ malam hari, dan doa sebelum dan sesudah makan. …

“.. satu hal yang perlu dicatat disini adalah semua sikap yang terlihat (duduk, berdiri, bersujud, dll) adalah merupakan ungkapan hati. Tuhan lebih melihat apa yang ada di dalam hati daripada apa yang nampak di luar, walaupun kita tidak mengatakan bahwa ekpresi berdoa tidaklah penting, karena yang diekpresikan keluar adalah ungkapan hati. …

* Pasangan suami istri (awam) yang telah menyelesaikan studi S2 dalam bidang theologi di Institute for Pastoral Theology (IPT) – Ave Maria University, USA pada tahun 2009

KESIMPULAN
Dengan memperhatikan;
– Alkitab yang beredar di sekitar Levant dalam bahasa Aramaic, Yunani, Syria-Peshitta.
– Doa St. Basil the Great dimasukkan dalam salah satu tata cara shalat tujuh.
– Cara ibadah Simeon Stylites dengan bertapa di puncak pilar yang kala itu sangat mempengaruhi umat kristen di daerah Levant (Syam). Berbeda jauh dengan Shalat Tujuh.
– Masuknya bahasa Arab ke wilayah Levant pada masa Umar dan setelahnya.
– Markas KOS yang tak berpindah pada masa penaklukan Ottoman.
– Munculnya buku The Eticon, Mar Gregorius Yuhanna Ibn al-Ibri yang mulai mendeskripsikan tata cara Shalat Tujuh.
– KOS di bawa masuk ke Indonesia sekitar tahun 90-an.

Maka dapat disimpulkan bahwa Tata Cara Shalat Tujuh Waktu berbahasa Arab, diciptakan oleh “seseorang setelah tahun 1979”, berdasarkan buku Mar Gregorius Yuhanna Ibn al-Ibri yang berjudul Eticon.
Sejak itu disusunlah tata caranya dalam bahasa Arab, termasuk budaya Azan dan Qiraah yang sangat dipengaruhi oleh interaksi dengan Islam.

Kemudian Ritual KOS masuk Indonesia dengan Tetap berbahasa Arab.
Berbeda dengan tradisi Kristen yang selalu dilakukan penerjemahan ke bahasa lokal, khusus ritual Shalat Tujuh Waktu tetap memakai bahasa Arab, walaupun diajarkan di komunitas masyarakat yang berbahasa Indonesia.
Kita semua tentu maklum bahwa menjaga keaslian bahasa merupakan tradisi Islam. Jadi bisa disimpulkan pula bahwa “si pembawa masuk ajaran Kristen Orthodox” ke Indonesia ini pernah berinteraksi dengan budaya Islam.

CMIIW
Semoga bermanfaat.

Oleh:
Genghis Khun

Rujukan:
Bambang Noorsena: Sejarah dan Makna Teologis Shalat 7 Waktu dan Paralelisasinya dengan Islam, http://www.sarapanpagi.org/sejarah-makna-teologis-shalat-7-waktu-vt6420.html
Rm. Dn. Damaskinos Arya, PANDUAN SHOLAT GEREJA MULA-MULA YANG ORTHODOX, Penerbit Gereja Orthodox Indonesia, Parokia St. Sergios Radonezh, Medan
Willie, Sholat, Sebuah Tradisi Penyembahan Kristen Sejak Zaman Purba
Teguh Hindarto; https://pijarpemikiran.blogspot.com/2011/12/sholat-dalam-islam-jejak-ibadah-harian.html
http://eprints.walisongo.ac.id/1932/1/Zaenul-Menuju_Dialog_Islam_Kristen.pdf
https://alazharkursusbahasapare.blogspot.com/2017/09/apa-perbedaan-antara-bahasa-arab-klasik.html

https://www.britannica.com/biography/Saint-Basil-the-Great
http://kisahorthodox.blogspot.com/2016/08/basilius-agung.html
http://www.katolisitas.org/perbedaan-gereja-orthodox-dengan-gereja-katolik/
http://andioctavianus.blogspot.com/2015/12/tata-cara-sembahyang-harian-orthodox.html
http://gerejaorthodoxindonesia.blogspot.com/2012/11/alamat-gereja-orthodox-indonesia.html
http://katolik-timur.blogspot.com/2012/10/doa-pembebasan-oleh-st-basilius-agung.html
http://jembatan-orthodoxi.blogspot.com/2013/09/tata-cara-sholat-gereja-orthodox.html

Wikipedia
https://en.wikipedia.org/wiki/Syriac_Orthodox_Church
https://en.wikipedia.org/wiki/Yohanna_Ibrahim
https://en.wikipedia.org/wiki/Stylite
https://en.wikipedia.org/wiki/Severus_of_Antioch
https://en.wikipedia.org/wiki/Peshitta

Patriark Siria Antiokhia dari 512 hingga 1783 : https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_Syriac_Patriarchs_of_Antioch_from_512_to_1783
Patriark Siria Antiokhia dari 1783 hingga sekarang: https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_Syriac_Orthodox_Patriarchs_of_Antioch

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *