Menyingkat kata, banyak masjid yang hancur pasca terjadinya musibah gempa, tsunami dan liquefaksi di daerah palu dan Donggala pada 28 September 2018.
Oleh karena itu diperlukan kalibrasi ulang saat merenovasi atau saat membangun masjid baru di lokasi pengungsian.

Jika alat bantu sudah hilang diterjang tsunami (seperti kompas, jam dinding, Jadwal Shalat Digital, Smartphone, Akses Internet atau lainnya), kita harus paham bahwa WAKTU SHALAT itu sebenarnya ditentukan oleh posisi Matahari (Ru’yat), bukan dengan alat-alat/ gadget.
Silahkan menghadap arah mana saja jika tidak mampu memastikan arah kiblat, atau meminta bantuan kepada orang yang mampu (Ahli Falak, Navigator), karena kemampuan masing-masing orang berbeda.

Cara mudah menentukan Arah Kiblat adalah arah barat serong ke KANAN ‘sedikit’.
Sedangkan cara tepatnya sebagai berikut;

Google Earth;

1. HINDARI KOMPAS
Prinsip utama adalah; hindari pemakaian Kompas, karena kompas tidak menunjukkan arah Utara yang benar (True North)
Lalu cara apakah yang akan dipakai?

2. BAYANGAN MATAHARI?
Kita bisa memakai bantuan (Bayangan) Matahari dengan sedikit perhitungan. Baik saat matahari di timur maupun saat matahari sudah tergelincir ke barat.
Waktunya berbeda tiap daerah.

Sayangnya di Bulan Desember ini posisi matahari berada jauh di selatan, sedangkan Palu Donggala hampir berada di Khatulistiwa.
Artinya bayangan matahari di bulan desember TAK SATUPUN mengarah ke arah Kiblat.

Atau mungkin penganut teori Bumi Datar mempunyai cara pengukuran yang lain, silahkan dibagi disini…

3. PETUNJUK BINTANG

“..Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. …” (QS Al An’aam 97)

“..bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. ..” (QS An Nahl 12)

“..dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk.” (QS An Nahl 16)

Percobaan virtual Malam hari di daerah Palu, bintang-bintang yang familier untuk dikenali adalah Aldebaran dan Betelgeuse.

Stellarium;

Aldebaran termasuk gugusan rasi taurus, sedangkan Betelgeuse termasuk rasi Orion.

Pengecekan dengan Skema Universal Arah Kiblat;

lingkaran besar bola bumi yang melalui Ka’bah dan Palu (Garis Biru), berpotongan terhadap bintang-bintang (panah merah) di titik;
– Aldebaran = GHA 288°
– Betelgeuse = GHA 260°

(GHA; Garis Bujur Greenwich Hour Angle. Apa itu? Silahkan membaca artikel sebelumnya tentang Astronavigasi)

Saat berpotongan itulah bintang tersebut ‘sedang menunjukkan’ arah Kiblat. Kapan?
Berikut ini daftarnya

Betelgeuse
Tanggal
01 Des jam 02:38 WITA
04 Des jam 02:27 WITA
08 Des jam 02:11 WITA
12 Des jam 01:55 WITA
16 Des jam 01:39 WITA
20 Des jam 01:23 WITA
24 Des jam 01:08 WITA
28 Des jam 00:52 WITA

Aldebaran
Tanggal
01 Des jam 03:11 WITA
04 Des jam 03:00 WITA
08 Des jam 02:44 WITA
12 Des jam 02:28 WITA
16 Des jam 02:12 WITA
20 Des jam 01:56 WITA
24 Des jam 01:42 WITA
28 Des jam 01:24 WITA

MEMBIDIK BINTANG
Langkah terakhir, rentangan tali sambil membidik bintang membantu kita menentukan arah kiblat tersebut.

Jika ada Saran dan koreksi silahkan…
Demikian semoga bermanfaat.
#Letsguide

Genghis Khun

Rujukan;
http://genghiskhun.com/al-quran-pdf-terjemah-akses-dan-bookmark-dari-berbagai-perangkat
Google Earth
Stellarium
Accurate Time, Odeh
Navigator Light

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *