" />

Rekonstruksi Pemahaman Alquran 01 s/d 05

000Artikel ini sebenarnya hanya sebaran status di facebook dari rekan saya yang kemudian saya ‘ikat’ menjadi satu agar tidak ‘terbuang oleh waktu’.

Status asli milik Mohammad Nasih, seorang Hafidz, Doctor, Dosen Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ dan pendiri Monash Institute, beasiswa dan program Hafidz bagi pelajar berprestasi tapi kurang mampu. Singkatnya; beliau adalah seorang suami dari bu dokter yang merupakan teman istri saya..

=

Statusnya menarik, terutama bagi pembaca yang haus mempelajari al Quran seperti saya.
Bagi yang belum punya Al Quran, anda bisa mendownload Gratis Al Quran PDF Terjemah DEPAG di blog ini; di Halaman Download
Saya sertakan tambahan yang diperlukan agar enak dibaca. Silahkan disimak sambil minum es wedhang jahe;





Rekonstruksi Pemahaman Alquran 01:

“Berdasarkan hasil penelitian sederhana yg saya lakukan, hampir semua muslim Indonesia mengartikan kata majnun dalam Alquran dg GILA.
Dalam Alquran terjemah mmg diartikan demikian.
Sesungguhnya, arti yg benar sesuai dg konteks yg dihadapi oleh Rasulullah, bukan gila, melainkan kesurupan, alias kerasukan jin.
Lihat QS. al-Qalam: 2 dan ayat2 lain.
Pahami dg baik QS. Al-Syu’ara’.
Untuk memudahkan dalam memahami, sila baca tulisan saya berjudul “Memahami Alquran sebagai Sebuah Puisi”. Bisa ditelusuri via google.com. Tulisan lama, tapi sangat relevan. Sdh sejak lama saya mengkritik kekeliruan terjemahan kata majnun dg gila.

Sumber

Versi terjemah DEPAG
QS 068. Al Qalam (Al Kalam):
2. berkat nikmat Tuhanmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila.

=

Rekonstruksi Pemahaman Alquran 02:

“Kita sering mendengar orang bilang “fitnah lbh kejam dibanding pembunuhan” dalam konteks berita bohong untuk menjelekkan orang lain.
Ini merupakan pemahaman serampangan terhadap QS. al-Baqarah: 217.
Makna kata fitnah yg tepat dalam ayat itu adalah syirk (menyekutukan Allah).
Mari belajar bahasa Arab dan asbabun nuzul. Agar bisa memahami Alquran dg baik.
Ramadlan kita jadikan momentum kesadaran dan semangat.


Sumber

Versi terjemah DEPAG
QS. 02.al-Baqarah: 217
217. Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram.
Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidil haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar(dosanya) di sisi Allah134*. Dan berbuat fitnah135* lebih besar (dosanya) daripada membunuh.
Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup.
Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.

Ket*
134. Jika kita ikuti pendapat Ar Razy, maka terjemah ayat di atas sebagai berikut: Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar, dan (adalah berarti) menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah dan (menghalangi manusia dari) Masjidilharam.
Tetapi mengusir penduduknya dari Masjidilharam (Mekah) lebih besar lagi (dosanya) di sisi Allah.”
Pendapat Ar Razy ini mungkin berdasarkan pertimbangan, bahwa mengusir Nabi dan sahabat-sahabatnya dari
Masjidilharam sama dengan menumpas agama Islam.
135 Fitnah di sini berarti penganiayaan dan segala perbuatan yang dimaksudkan untuk menindas Islam dan Muslimin.

=

Rekonstruksi Pemahaman Alquran 03:

“Banyak orang keliru dalam memahami kata nashaha dalam Alquran dengan menggeneralisasi makna “nasehat” alias memberikan saran yg baik.
Untuk sekedar uji pemahaman, cobalah substitusikan makna tersebut ke dalam kata naashihuun dlm QS. Yusuf: 11.
Pasti Anda akan bergumam sendiri karena merasa agak kurang nyambung. Apalagi kalau Anda masukkan ke QS. al-Tahrim: 8. Makna yg tepat adalah komitmen.

Nashihah memiliki makna lain, komitmen. Jadi, nama saya berarti “Orang Yg Berkomitmen”. Saya serasa melompat girang saat awal tahu arti kata ini. Lbh dari dua puluh tahun saya memahami makna nama saya sendiri dg “Pemberi pesan yg baik”.”

Sumber

Versi terjemah DEPAG
QS. 012. Yusuf:
11. Mereka berkata: “Wahai ayah kami, apa sebabnya kamu tidak mempercayai kami terhadap Yusuf, padahal sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengingini kebaikan baginya.

QS. 066.al-Tahrim:
8. Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

=

Rekonstruksi Pemahaman Alquran 04:

“Mayoritas umat Islam saat ini mengalami salah persepsi ttg puasa.
Di antara indikatornya adalah mendasarkan puasa hanya pada QS. al-Baqarah: 183.
Padahal ayat 183-184 justru adalah puasa masa lalu di awal Islam yg sudah direvisi, karena byk sahabat yg gagal dlm menjalankan puasa.
Ayat ttg puasa yg skg kita jalankan adalah 185 dan 187. Kekeliruan yg mendarah daging ini saya duga karena kesulitan dalam menyampaikan ayat 185 dan 187. Sebab, jika tidak benar2 menguasai hafalan dg baik, bacaan akan nyambung ke ayat lain.

Baca ayat 185 bisa muter lagi ke ayat 184, karena ada kata2 yg sama. Baca akhir ayat 187, bahkan potensial menyambung ke ayat lain yg lebih jauh tempatnya, Ali Imran: 103. Inilah yg membuat mereka tidak mau ambil risiko berputar2 bacaan di atas mimbar dan lbh memilih sekedar membaca 183 saja, walaupun berisiko besar membuat mispersepsi luar biasa tentang puasa kita saat ini yg jauh berbeda dg puasa umat2 sebelum kita.”

Sumber

Versi terjemah DEPAG
QS. al-Baqarah: 183
183. Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,
184. (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan[114], maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Versi terjemah DEPAG[114]. Maksudnya memberi makan lebih dari seorang miskin untuk satu hari.

Ayat ini (S. 2: 184) turun berkenaan dengan maula (Budak yang sudah dimerdekakan) Qais bin Assa-ib yang memaksakan diri berpuasa, padahal ia sudah tua sekali. Dengan turunnya ayat ini (S. 2: 184), ia berbuka dan membayar fidyah dengan memberi makan seorang miskin, selama ia tidak berpuasa itu.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d di dalam kitab at-Thabaqat yang bersumber dari Mujahid.)

185. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

186. Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

Ayat ini turun berkenaan dengan datangnya seorang Arab Badui kepada Nabi SAW yang bertanya: “Apakah Tuhan kita itu dekat, sehingga kami dapat munajat/memohon kepada-Nya, atau jauh, sehingga kami harus menyeru-Nya?” Nabi SAW terdiam, hingga turunlah ayat ini (S. 2: 186) sebagai jawaban terhadap pertanyaan itu.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Marduwaih, Abussyaikh dan lain-lainnya dari beberapa jalan, dari Jarir bin Abdul Hamid, dari Abdah as-Sajastani, dari as-Shalt bin Hakim bin Mu’awiyah bin Jaidah, dari bapaknya yang bersumber dari datuknya.)

Menurut riwayat lain, ayat ini (S. 2: 186) turun sebagai jawaban terhadap beberapa shahabat yang bertanya kepada Nabi SAW: “Dimanakah Tuhan kita?”
(Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq dari Hasan, tetapi ada sumber-sumber lain yang memperkuatnya. Hadits ini mursal.)

Menurut riwayat lain, ayat ini (S. 2: 186) turun berkenaan dengan sabda Rasulullah SAW: “Janganlah kalian berkecil hati dalam berdoa, karena Allah SWT telah berfirman “Ud’uni astajib lakum” yang artinya berdoalah kamu kepada-Ku, pasti aku mengijabahnya) (S. 40. 60). Berkatalah salah seorang di antara mereka: “Wahai Rasulullah! Apakah Tuhan mendengar doa kita atau bagaimana?” Sebagai jawabannya, turunlah ayat ini (S. 2: 186)
(Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir yang bersumber dari Ali.)

Menurut riwayat lain, setelah turun ayat “Waqala rabbukum ud’uni astajib lakum” yang artinya berdoalah kamu kepada-Ku, pasti aku mengijabahnya (S. 40: 60), para shahabat tidak mengetahui bilamana yang tepat untuk berdoa. Maka turunlah ayat ini (S. 2: 186)
(Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Atha bin abi Rabah.)

187. Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma’af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf[115] dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.

[115]. I’tikaf ialah berada dalam mesjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah.

Mengenai turunnya ayat ini terdapat beberapa peristiwa sebagai berikut:

a. Para shahabat Nabi SAW menganggap bahwa makan, minum dan menggauli istrinya pada malam hari bulan Ramadhan, hanya boleh dilakukan sementara mereka belum tidur. Di antara mereka Qais bin Shirmah dan Umar bin Khaththab. Qais bin Shirmah (dari golongan Anshar) merasa kepayahan setelah bekerja pada siang harinya. Karenanya setelah shalat Isya, ia tertidur, sehingga tidak makan dan minum hingga pagi. Adapun Umar bin Khaththab menggauli istrinya setelah tertidur pada malam hari bulan Ramadhan. Keesokan harinya ia menghadap kepada Nabi SAW untuk menerangkan hal itu. Maka turunlah ayat “Uhilla lakum lailatashshiamir rafatsu sampai atimmush shiyama ilal lail” (S. 2: 187)
(Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud dan al-Hakim dari Abdurrahman bin Abi Laila, yang bersumber dari Mu’adz bin Jabal. Hadits ini masyhur, artinya hadits yang diriwayatkan oleh tiga orang atau lebih kepada tiga orang atau lebih dan seterusnya. Walaupun ia tidak mendengar langsung dari Mu’adz bin Jabal, tapi mempunyai sumber lain yang memperkuatnya.)

b. Seorang shahabat Nabi SAW tidak makan dan minum pada malam bulan Ramadhan, karena tertidur setelah tibanya waktu berbuka puasa. Pada malam itu ia tidak makan sama sekali, dan keesokan harinya ia berpuasa lagi. Seorang shahabat lainnya bernama Qais bin Shirmah (dari golongan Anshar), ketika tiba waktu berbuka puasa, meminta makanan kepada istrinya yang kebetulan belum tersedia. Ketika istrinya menyediakan makanan, karena lelahnya bekerja pada siang harinya, Qais bin Shirmah tertidur. Setelah makanan tersedia, istrinya mendapatkan suaminya tertidur. Berkatalah ia: “Wahai, celakalah engkau.” (Pada waktu itu ada anggapan bahwa apabila seseorang sudah tidur pada malam hari bulan puasa, tidak dibolehkan makan). Pada tengah hari keesokan harinya, Qais bin Shirmah pingsan. Kejadian ini disampaikan kepada Nabi SAW. Maka turunlah ayat tersebut di atas (S. 2: 187) sehingga gembiralah kaum Muslimin.

c. Para shahabat Nabi SAW apabila tiba bulan Ramadhan tidak mendekati istrinya sebulan penuh. Akan tetapi terdapat di antaranya yang tidak dapat menahan nafsunya. Maka turunlah ayat ” ‘Alimal lahu annakum kuntum takhtanuna anfusakum fataba’alaikum wa’afa ‘ankum sampai akhir ayat.”
(Diriwayatkan oleh Bukhari dari al-Barra.)

d. Pada waktu itu ada anggapan bahwa pada bulan Ramadhan yang puasa haram makan, minum dan menggauli istrinya setelah tertidur malam hari sampai ia berbuka puasa keesokan harinya. Pada suatu ketika ‘umar bin Khaththab pulang dari rumah Nabi SAW setelah larut malam. Ia menginginkan menggauli istrinya, tapi istrinya berkata: “Saya sudah tidur.” ‘Umar berkata: “Kau tidak tidur”, dan ia pun menggaulinya. Demikian juga Ka’b berbuat seperti itu. Keesokan harinya ‘umar menceritakan hal dirinya kepada Nabi SAW. Maka turunlah ayat tersebut di atas (S. 2: 187) dari awal sampai akhir ayat.
(Diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Jarir, dan Ibnu Abi Hatim dari Abdullah bin Ka’b bin Malik, yang bersumber dari bapaknya.)

e. Kata “minal fajri” dalam S. 2: 187 diturunkan berkenaan dengan orang-orang pada malam hari, mengikat kakinya dengan tali putih dan tali hitam, apabila hendak puasa. Mereka makan dan minum sampai jelas terlihat perbedaan antara ke dua tali itu, Maka turunlah ayat “minal fajri”. Kemudian mereka mengerti bahwa khaithul abydlu minal khaitil aswadi itu tiada lain adalah siang dan malam.
(Diriwayatkan oleh al-Bukhari yang bersumber dari Sahl bin Sa’id.)

f. Kata “wala tubasyiruhunna wa antum ‘akifuna fil masajid” dalam S. 2: 187 tersebut di atas turun berkenaan dengan seorang shahabat yang keluar dari masjid untuk menggauli istrinya di saat ia sedang i’tikaf.
(Diriwayatkan oleh ibnu Jarir yang bersumber dari Qatadah.)

Ali Imran:
102 Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenarbenar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

103 Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan,
maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

==

Rekonstruksi Pemahaman Alquran 05:

Mayoritas umat Islam Indonesia berpemahaman bahwa harus berwudlu terlebih dulu jika hendak memegang mushhaf Alquran. Jika ditanya ttg apakah landasannya?
Sebagian mrk mengaku tdk tahu alasannya atau sekedar katanya.
Sebagian lagi menjawab dg QS. al-Waqi’ah: 79.
Padahal yg dimaksud al-Muthahharun dlm ayat itu bukanlah manusia, melainkan para malaikat.
Konteks ayat tsb adalah penjelasan mengenai Alquran di lauh mahfudh. Informasi ttg Alquran tsb tdk diberikan kpd selain pada malaikat yg disucikan.
Para jin biasanya mencuri2 pembicaraan “langit” dan karenanya dilempar api (al-Hijr: 17-18). Lihat juga al-Syu’ara’: 210-212.

Di samping itu, ayat di al-Waqi’ah tsb sdh ada sebelum adanya mushhaf. Namun, saya setuju bahwa mendawamkan wudlu ada pilihan yg baik dan saya pun berusaha melakukannya. Namun, dlm keadaan2 ttt yg sulit unt berwudlu, spt dlm bus, kereta, pesawat, dll, saya terbiasa menyentuk Alquran tanpa wudlu.

Bagaimana tidak menyentuhnya, jika Alquran itu “selalu” berada di kantong saya? Lalu bagaimana jika Alquran itu skg ada di HP anda? Mari kita jaga Alquran dg membacanya, memahaminya, dan mengamalkan petunjuknya. Isinya luar biasa. Hanya saja mmg Alquran terlalu canggih unt dipahami oleh mrk yg kurang serius, tidak menyucikan niat, murni karena ingin menolong Allah dan memuliakan agamaNya. Semoga kita bisa.

Sumber

Versi terjemah DEPAG
QS. 056. al-Waqi’ah:
79. tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.

Versi terjemah DEPAG
QS 015. Al-Hijr:
17. dan Kami menjaganya dari tiap-tiap syaitan yang terkutuk,
18. kecuali syaitan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat) lalu dia dikejar oleh semburan api yang terang.

QS.026.Al-Syu’ara’:
210. Dan Al Quran itu bukanlah dibawa turun oleh syaitan- syaitan.
211. Dan tidaklah patut mereka membawa turun AL Quran itu, dan merekapun tidak akan kuasa.
212. Sesungguhnya mereka benar-benar dijauhkan daripada mendengar Al Quran itu.

Bersambung……..

Mengenai Monash Institute:
Monash Institute
Monash Media

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

  • Genghis Khun

    Paranoid Dalam Mengais Rizqi...


    Nyari Theme BLOG WORDPRESS bagus??

  • Tulisan Terbaru

  • Genghis Khun's Profile
    Genghis Khun's Facebook profile
    Create Your Badge ExitJunction.com  - Make Money From Your Exit Traffic!


  • Masukkan Code ini K1-1E255B-E
    untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com
  • CARI DUIT

    Adf.ly
    Buy Text links www.cashnhits.com
    Rumahweb
    Clixsense
    Exitjunction
    BidVertiser

    Earn money from your website/blog. Get paid through PayPal Buy and sell Text Links Blog Terbaik
    Yuk.Ngeblog.web.id

    make money with your web site

    GoBlog Theme Banner 125x125

    Media Penyimpanan Dunia Maya: DropBox
  • Fan Page