" />

Rekonstruksi Pemahaman Alquran 14 s/d 20

000Artikel ini sebenarnya hanya sebaran status di facebook dari rekan saya, Mohammad Nasih, yang kemudian saya ‘ikat’ menjadi satu agar tidak ‘terbuang oleh waktu’.

Baca Sebelumnya Bagian 1 dan Bagian 2

=

Bagi yang belum punya Al Quran, anda bisa mendownload Gratis Al Quran PDF Terjemah DEPAG di blog ini; di Halaman Download
Saya sertakan tambahan yang diperlukan agar enak dibaca;






Rekonstruksi Pemahaman Alquran 14:

Ternyata banyak yg memahami al-Dluha: 4 sbg akhirat lbh baik dibanding dunia. Sesungguhnya, yg dimaksud ayat tersebut adalah siapa pun yg melakukan usaha dg serius, maka pada akhirnya akan mendapatkan yg lebih baik.
Permulaan itu sulit, hasilnya sering tidak bagus. Namun, jika terus bersabar menjalankan usaha tanpa putus asa, maka hasil yg jauh lebih baik akan bisa diraih. Seperti Rasulullah berdakwah di Makkah selama 13 tahun dg hasil minimalis dan “terusir”.

Di Madinah, dlm 11 tahun, Rasulullah mndapatkan kegemilangan dan bahkan bisa menundukkan Makkah. Permulaannya sangat sulit. Namun, akhirnya berhasil membangun peradaban yg jauh melampaui zamannya.

Dan, jangan pula membandingkan antara dunia dengan akhirat. Keduanya berbeda dimensi. Dunia adalah batu ujian untuk hidup di akhirat kelak. Baik buruk di akhirat, ditentukan oleh kehidupan di dunia ini; mendapat ridla Allah atau tidak. Jadi, ayat itu sesungguhnya memotivasi Nabi Muhammad dan kita semua untuk berpikir jangka panjang, tidak sekedar jangka pendek.

Semua usaha yg pahit, akan berbuah manis pada waktunya yang seringkali harus lama.

sumber

Versi terjemah DEPAG
093. ADH DHUHAA (WAKTU MATAHARI SEPENGGALAN NAIK)

4 Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan)1582.

1582 Maksudnya ialah bahwa akhir perjuangan Nabi Muhammad s.a.w. itu akan menjumpai kemenangan-kemenangan, sedang permulaannya penuh dengan kesulitan-kesulitan. Ada pula sebagian ahli tafsir yang mengartikan “akhirat” dengan kehidupan akhirat beserta segala kesenangannya dan “ula” dengan arti kehidupan dunia.

-
Rekonstruksi Pemahaman Alquran 15:
Sebagian kecil calon sarjana dan intelektual muslim terpesona oleh metode hermeneutika untuk menafsirkan Alquran. Termasuk saya juga, DULU.

Kalau sdh menyebut hermeneutika merasa keren banget. Dan penafsiran yg belum menggunakan hermeneutika, terasa belum “gagah”. Padahal hermeneutika memiliki salah satu prinsip terpenting “penafsir bisa membangun penafsiran yg lebih baik dibanding pembuat teks”. Lihat Schleiermacher.

Dan mmg, hermeneutika dikembangkan untuk membangun apologi untuk kitab yg sdh dipalsukan.
Sedangkan Alquran adalah kitab yg autentisitasnya sdh diakui, kecuali oleh orang yg tidak mengerti.

Mana mungkin hermeneutika yg demikian itu berlaku untuk Alquran? Tidak mungkin kita bisa menafsirkan yg lebih baik dibanding pembuat teks Alquran? Justru Allahlah penafsir terbaik. Rasul-lah pemandu menuju penafsiran terbaik itu.

Mau uji coba? Coba tafsirkan kata dhulm (dhalim) dalam al-An’am: 82. Baca tanpa terjemahan dulu. Pemahaman apa yg muncul dari kata dhulm itu?
Para sahabat pun salah. Sampai mereka mengajukan pertanyaan kepada Nabi.
“Mana mungkin kami ini tidak berbuat dhalim, Ya Rasulallaah”.

Lalu Rasulullah mengatakan:
“Yg dimaksud dhalim di sini, bukan dhalim sbgm kalian pahami itu.” Rasulullah menjelaskan bahwa dhalim yg dimaksud ayat itu adalah dhalim sbgmn di QS. Luqman, “Sesungguhnya syirk adalah kedhaliman yg besar”. Ada yg berani menafsirkan yg lebih baik dari Allah dan RasulNya?
https://www.facebook.com/mohammad.nasih.3/posts/10206768804559023

Versi terjemah DEPAG
Q.S 6. Al An’aam
82. Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan “dhulm” (kezaliman (syirik)), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.

31. Luqman
13. Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”

-

Rekonstruksi Pemahaman Alquran 16:
Alquran terjemah kita menerjemahkan al-Baqarah: 26 sbb: “Sesungguhnya Allah tdk malu untuk mmbuat perumpamaan berupa nyamuk dan YG LBH KECIL DARI NYAMUK”. Fa-maa fawqahaa arti aslinya adalah “bahkan sesuatu yg ada di atasnya”. Terjemah konvensional itu mmg masuk akal. Namun, yg lbh tepat lagi adalah berdasarkan fakta modern bahwa di atas kepala nyamuk selalu ada serangga berukuran mikroskopik. Itulah sesuatu yg lebih kecil dibandingkan nyamuk. Dan Allah tidak malu untuk membuatnya.

Sumber

Versi terjemah DEPAG
26 Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk/ yang lebih rendah dari itu33. Adapun orang-orang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan:

“Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?.” Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah34, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang fasik,
27 (yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.

33 Diwaktu turunnya surat Al Hajj ayat 73 yang di dalamnya Tuhan menerangkan bahwa berhala-berhala yang mereka
sembah itu tidak dapat membuat lalat, sekalipun mereka kerjakan bersama-sama, dan turunnya surat Al Ankabuut ayat 41
yang di dalamnya Tuhan menggambarkan kelemahan berhala-berhala yang dijadikan oleh orang-orang musyrik itu sebagai
pelindung sama dengan lemahnya sarang laba-laba.
34 Disesatkan Allah berarti: bahwa orang itu sesat berhubung keingkarannya dan tidak mau memahami petunjuk-petunjuk
Allah. Dalam ayat ini, karena mereka itu ingkar dan tidak mau memahami apa sebabnya Allah menjadikan nyamuk sebagai
perumpamaan, maka mereka itu menjadi sesat.

-

Rekonstruksi Pemahaman Alquran 17:
Tidak sedikit orang yg berpemahaman bahwa saat Muhammad menerima wahyu, beliau sdh yakin bahwa itu datang dari Allah.

Sesungguhnya, saat beliau menerima wahyu pertama, “iqra’”, beliau justru gundah gulana hingga lari terbirit2 pulang dari ketinggian jabal Nur dan sesampai di rumah meminta Khadijah menyelimutinya. Khadijahlah yg justru menenangkannya dan meyakinkan beliau bahwa kejadian itu adalah awal kenabian beliau.

Nabi Muhammad justru diterpa kekhawatiran bahwa beliau sdg kerasukan jin, karena tiba2 melafalkan al-’Alaq: 1-5 yg sangat puitis. Rimanya bagus, berakhiran huruf qaf, qaf, mim, mim, dan mim.

Istrinya yg sangat mencintai dan menghormatinya mengatakan:
“Jangan khawatir. Allah tidak akan menghinakanmu selamanya. Demi Allah……”

Dan Allah pun kemudian menegaskan bahwa beliau tidak kerasukan jin dg menurunkan ayat2 di awal QS. al-Qalam. Silahkan baca sendiri ya.
Sumber

Versi terjemah DEPAG
068. AL QALAM (KALAM)
1 Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis,
2 berkat nikmat Tuhanmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila.
3 Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya.
4 Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.
5 Maka kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir)pun akan melihat,
6 siapa di antara kamu yang gila.
7 Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dia-lah Yang Paling Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

-

Rekonstruksi Pemahaman Alquran 18:
Sebagian umat Islam menganggap shalat jama’ah sebagai hanya perkara remeh temeh, sehingga masjid2 kita lebih sering sepi. Jamaah “sangat maju”, hanya di barisan paling depan saja. Apalagi shalat shubuh.

Padahal, al-Quran menjelaskan bahwa dalam keadaan perang pun, shalat tetap dilakukan dg berjama’ah.
Bacalah QS. al-Nisa’: 102. Setelah baca dg baik, masih beranikah meninggalkan shalat berjama’ah?
Sumber

Versi terjemah DEPAG
102. Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan serakaat)[344], maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu[345]], dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus. Dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kamu memang sakit; dan siap siagalah kamu. Sesungguhnya Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu[346].

[344]. Menurut jumhur mufassirin bila telah selesai serakaat, maka diselesaikan satu rakaat lagi sendiri, dan Nabi duduk menunggu golongan yang kedua.

[345]. Yaitu rakaat yang pertama, sedang rakaat yang kedua mereka selesaikan sendiri pula dan mereka mengakhiri sembahyang mereka bersama-sama Nabi.

[346]. Cara sembahyang khauf seperti tersebut pada ayat 102 ini dilakukan dalam keadaan yang masih mungkin mengerjakannya, bila keadaan tidak memungkinkan untuk mengerjakannya, maka sembahyang itu dikerjakan sedapat-dapatnya, walaupun dengan mengucapkan tasbih saja.

-

Rekonstruksi Pemahaman Alquran 19:
Banyak orang mengira bahwa menghafalkan Alquran itu sulit. Sesunnguhnya Allah telah memudahkannya. Lihat al-Qamar: 17, 22, 36 (maksudnya ayat 32. red), dan 40.
Namun, banyak org yg telah berkeinginan menghafalkan Alquran terlena dan tidak memahami bahwa kemudahan itu diberikan hanya kpd orang2 yg istiqamah. Hanya dg istiqamah dlm menghafal bertarget, sehari minimal 2 halaman, menghafalkannya akan jd mudah.

Dan istiqamah muraja’ah sehari minimal 6 juz akan membuat usaha mempertahankan hafalan Alquran 30 juz juga mjd mudah. Tanpa itu, keinginan unt menghafalkan Alquran akan jadi sekedar keinginan.

Thuul al-amal. Panjang angan2. Ayo lakukan.
sumber

Versi terjemah DEPAG
054. AL QAMAR (BULAN)
17 Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?
22 Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?
32 Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?
40 Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?

-

Rekonstruksi Pemahaman Alquran 20:
Tidak sedikit intelektual muslim keliru dalam memahami term “kalimatun sawa’” dalam Ali Imran: 64 dg sekedar yg penting semuanya menyembah Allah.
Padahal ayat itu mensyaratkan “tidak menyekutukanNya dg sesuatu pun yg lain”.

Kekeliruan mrk telah menjerumuskan mrk kpd pemahaman keliru bahwa semua agama sama.
Jika memahami ayat ini dg benar, maka mrk akan sampai kepada pemahaman bahwa semua agama tidak sama. Dan dengan pemahaman yg benar, maka mereka akan sampai kepada keyakinan bahwa Allah adalah satu2nya Tuhan yg mengutus Muhammad sebagai utusan terakhir, tidak ada lagi utusan setelahnya.
Kalau sekedar menyembah Allah sbg titik temu, kaum musyrikin Quraisy juga menyembah Allah. Hanya saja mrk menyembah tuhan2 sekutuNya. Justru para sekutu itulah yg kemudian “diberantas” dg ayat2 tegas di QS. Al-Ikhlash.
https://www.facebook.com/mohammad.nasih.3/posts/10206813035704774

Versi terjemah DEPAG
64. Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.”
Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka:
“Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).”

QS 112. Al Ikhlas:
1. Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.*
2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
4. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”

* Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa kaum musyrikin meminta penjelasan tentang sifat-sifat Allah kepada Rasulullah saw. dengan berkata: “Jelaskan kepada kami sifat-sifat Tuhanmu.” Ayat ini (S. 112:1-4) turun berkenaan dengan peristiwa itu sebagai tuntunan untuk menjawab permintaan kaum musyrikin.
(Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, al-Hakim dan Ibnu Khuzaimah dari Abi Aliyah yang bersumber dari Ubay bin Ka’ab. Diriwayatkan pula oleh at-Thabarani dan Ibnu jarir yang bersumber dari Jabir bin Abdillah dan dijadikan dalil bahwa surat ini Makkiyah.)

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa kaum Yahudi menghadap kepada Nabi saw. dan diantaranya Ka’bubnul ‘asyraf dan Hay bin Akhtab. Mereka berkata: “Hai Muhammad, lukiskan sifat-sifat Tuhan yang mengutusmu.” Ayat ini (S.112:1-4) turun berkenaan dengan peristiwa itu.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu Abbas. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Qatadah dan Ibnu Mundzir yang bersumber dari Sa’id bin Jubair. Dengan riwayat ini Sa’id bin Jubair menegaskan bahwa surat ini Madaniyyah.)

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa kaum Ahzab(Persekutuan antara kamu Quraisy, Yahudi Madinah, kaum Goththafan dari Thaif dan munafiqin Madinah dan beberapa suku sekeliling Makkah) berkata: “Lukiskan sifat Tuhanmu kepada kami.” Maka datanglah Jibril menyampaikan surat ini (S.112:1-4) yang melukiskan sifat-sifat Allah.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Abil ‘Aliyah yang bersumber dari Qatadah.)

Keterangan:
Menurut as-Suyuthi kata “al-Musyrikin” dalam hadits yang bersumber dari Ubay bin Ka’ab ialah musyrikin dari kaum Ahzab, sehingga surat ini dapat dipastikan Madaniyyah sesuai dengan hadits Ibnu Abbas. Dengan demikian, tidak ada pertentangan antara dua hadits tersebut di atas dan diperkuat pula oleh riwayat Abus Syaikh di dalam kitabul Adhamah dari Aban yang bersumber dari Anas yang meriwayatkan bahwa Yahudi Khaibar menghadap kepada Nabi saw. dan berkata: “Hai Abal Qasim! Allah menjadikan malaikat dari cahaya hijab, Adam dari tanah hitam, Iblis dari api yang menjulang, langit dari asap, dan bumi dari buih air. Cobalah terangkan kepada kami tentang Tuhanmu.” Rasulullah saw tidak menjawab, sehingga turunlah Jibril membawa wahyu surat ini (S.112:1-4) yang melukiskan sifat Allah.

Mengenai Monash Institute:
Monash Institute
Monash Media
Tentang Hermeunetika

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

  • Genghis Khun

    Paranoid Dalam Mengais Rizqi...


    Nyari Theme BLOG WORDPRESS bagus??

  • Tulisan Terbaru

  • Genghis Khun's Profile
    Genghis Khun's Facebook profile
    Create Your Badge ExitJunction.com  - Make Money From Your Exit Traffic!


  • Masukkan Code ini K1-1E255B-E
    untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com
  • CARI DUIT

    Adf.ly
    Buy Text links www.cashnhits.com
    Rumahweb
    Clixsense
    Exitjunction
    BidVertiser

    Earn money from your website/blog. Get paid through PayPal Buy and sell Text Links Blog Terbaik
    Yuk.Ngeblog.web.id

    make money with your web site

    GoBlog Theme Banner 125x125

    Media Penyimpanan Dunia Maya: DropBox
  • Fan Page