" />

Rezim Medis

Nada sendu “Buon giorno principessa” mengalun, salah satu musik soundtrack film Life is Beautiful (La Vita e Bella) ciptaan Nicola Piovani, pertanda ada sms masuk dari teman sejawat:


“Reminder ya bang Akhun, jaga di Kl. ******, besok kamis 17 Juli08. Tlg utk ps. umum, Rxnya yang paten bang,soale klnxnya ada kerjasm dng *****&*****.BTK”

Cara bacanya:
“Reminder ya bang Akhun, jaga di Klinik ******, besok kamis 17 Juli08. Tolong utk pasien umum, Resepnya yang paten bang,soalnya kliniknya ada kerjasama dengan *****&*****.Banyak Terima Kasih”

Apa pendapat anda?
Kalimat yang berhenti di “……17 Juli08″ itu jelas sangat penting karena mengingatkan. Kalimat selanjutnya, bagi penulis yang berprinsip sakkarepe udhele dhewe (seenak perut sendiri), tidak mau diatur oleh orang lain, apalagi yang berbau Detailer, PATEN dll, hanya merupakan kalimat sampah. :)

Bagi TS yang tidak bernurani (Baca= Dokter Hitam), pemberitahuan tersebut bagaikan gayung bersambut “asyiiik, ada bonus tambahan dari pengeluaran obat”.
Memang menjadi dilema, klinik/ Rumah Sakit agar tidak kolaps (bangkrut, gulung tikar) perlu bekerja sama dengan perusahaan Farmasi. kerjasama saling menguntungkan donk..masa kerjasama untuk merugi :)
Lha siapa yang dirugikan?? jawab sendiri deh :P

Dokter sebagai karyawan harus RELA menjadi dokter hitam. Rela alias sukarela (dan kebanyakan sukacita), bukannya terpaksa lho :D
Akibatnya terapi menjadi jauh dari rasional.
Teringat dulu waktu masih Co-ass, ketika menemani residen jaga di poliklinik, setelah menerima resep dan residen sibuk dengan sesuatu hal. Pasien (ibu-ibu) bertanya ke penulis:
“Mas, apotek dekat sini yang murah dimana ya?”
Penulis yang menguasai medan segera menyahut;
“Oh, itu di sana deket pasar bla..bla..bla”
Tiba-tiba pak Residen yang terhormat memotong kalimat penulis dengan setengah membentak;
“Hssssh…di dalam sini saja bu, turun terus…..bla..bla!”
Kejadian ini tak pernah dilupakan penulis, apa yang menyebabkan Residen sedemikian marah?
Baru setelah lulus penulis bisa menganalisa=
Resep dari Residen yang dibawa ke Apotek jauh takkan terdeteksi oleh Detailer, dengan demikian bonusnya hangus (semoga analisa ini salah)

Mungkin ada teman lain yang berkomentar;
“Kita realistis dan manusiawi saja, dokter membutuhkan biaya update ilmu dan kebutuhan sehari-hari yang tidak murah”
Penulis akan membalas;
“Penghasilan yang diperoleh dari kerugian pasien malah tidak realistis, kecuali bagi yang berpikiran sempit”.
(sempit artinya mengharapkan penghasilan hanya dari profesinya)

Bagaimana dengan dokter putih? (kayaknya penulis bukan golongan ini karena tidak pernah memakai Jas Putih :) )
Ini adalah golongan dokter yang berpraktik semata-mata karena hobby. Tidak berpraktik pun terserah karena penghasilan utama dibidang lain. Tentu saja ini akan merugikan rezim medis, akibatnya akan diboikot dan diasingkan oleh teman-temannya lalu di kirim ke daerah gersang tanpa air minum (hiks..hiperbola banget sih?)

Ada pendapat lain?

Genghis Khun
Tulisan ini juga didedikasikan buat seorang teman yang mengaku dikirim ke daerah gersang. Juga sebagai pengingat bagi penulis, karena ada tanda-tanda idealisme akan luntur setahun ke depan horeee :)






You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.You can leave a response, or trackback from your own site.
11 Responses
  1. bayu says:

    ..profesi para pelopor kebangkitan nasional, semangkin lama semangkin dipojokken.
    ===================
    Genghis Khun:
    Komentarnya gak salah tuh??Seharusnya:
    Kelakuan Rezim Medis semangkin memojokken para pelopor kebangkitan nasional

  2. herdiansah says:

    sepertinya teman saya yang disampit termasuk dokter putih yah :)
    flash developer yang nyambi jadi dokter :P
    ===================
    Genghis Khun:
    Maaf disini tidak menerima pesan sponsor :P

  3. helfi says:

    kapan ya kita punya asuransi buat semua penduduk..mau di rs, klinik, praktek partikelir, tarif murah ato tarif mahal, tidak masalah..
    *mode iri on*
    ==================
    Genghis Khun:
    Denger-denger Di Kab. Halmahera Selatan, Propinsi Maluku Utara, biaya kesehatan di gratiskan. Jadi gaji untuk dokter juga didongkrak biar betah stand by di sana. Bener gak sih para TS yang berada di sana?
    Resikonya “dokter pedagang” jadi males-malesan ke sana karena gak mungkin donk sorenya buka praktek pribadi gratis :)
    atau papan namanya seperti ini:
    ==========================
    dr. Khunte Jayamahe
    SIP. xxx xxx xxx xxx
    Praktek Umum GRATIS

    Pagi jam 07.00-08.00
    sore jam 18.00-20.00

    Infaq/ Shadaqah sekedarnya
    ==========================
    Trus ditaruh KOTAK INFAQ persis depan pintu :P

  4. bambam says:

    wah… sebentar khun.. kayaknya kamu berpikiran sempit juga khun.. untuk hal ini nggak ada itu istilah rezim medis.. apalagi dokter hitam dokter putih.. bukan aku mau belain yang kamu sebut sebagai dokter hitam.. bukan juga berarti aku tersinggung dengan kata2mu.. tapi sebaiknya kita lurusin sesuatu.. karena khun.. kalo masih ngerti sepotong2, jangan suka sebar isu yang meresahkan.. walau hukumnya sebarkan walau hanya satu ayat.. tapi ketika ditafsirkan secara salah kan jadinya sesat..

    oke.. aku mulai… kita break-down satu2…

    satu.. tentang rasionalitas terapi dengan obat paten..
    selama obat paten yang diberikan sesuai dengan terapi, apa salahnya??? apa lagi kalo ternyata pasien dan/atau keluarganya mampu untuk membeli obat paten, apa salah kita resepkan obat paten??? pengalaman pribadi, ada beberapa pasien justru nggak percaya dengan obat generik.. jadi.. apa salah kalo kita kasih sedikit sugesti dengan obat paten selama peruntukannya sesuai?? selain itu, ada efek “sayang-kalo-nggak-diminum-karena-dibeli-dengan-harga-mahal” dari obat paten, sehingga diharapkan ketaatan minum obat bisa dicapai.. sebenernya di sini pentingnya kita belajar fundamental four pada anamnesis waktu kuliah dulu.. salah satu isinya adalah riwayat sos-ek.. dari situ kita bisa tau, sebenernya pasien mampu atau tidak untuk mengikuti terapi, sehingga bisa kita pilihkan terapi (maksudnya obat)yang sesuai dengan keadaan sos-eknya.. atau, jangan2 penulis blog ini (maksudnya akhun) selama ini sudah melupakan riwayat sos-ek pada anamnesisnya????
    ===================
    Genghis Khun:
    Setuju, intinya; pertama, edukasi memegang peranan penting, sekaligus meluruskan persepsi salah pasien tentang “nggak percaya dengan obat generik”. setelah mulut kita berbusa dalam hal edukasi pelurusan tersebut selanjutnya pasien ditawari milih obat yang mana? gitu khan bos?

    Simak juga:
    “Mulyo Hartono yang menjabat Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Yogyakarta ini mengatakan program obat murah juga tidak ditujukan untuk rumah sakit, karena selama ini rumah sakit menggunakan obat-obat generik. “Rumah sakit selama ini menggunakan obat-obat generik untuk membantu pasien agar biaya pengobatannya tidak terlalu mahal sehingga terjangkau segala lapisan masyarakat. Obat generik juga memiliki khasiat yang sama, namun jika pasien menghendaki menggunakan obat paten, kami akan melayani,” kata dia.
    Selengkapnya klik di sini

    Tentang beda Obat generik- Paten, klik di sini

    “Menurut dia (Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Sampurno), permasalahan sekarang ini adalah bagaimana upaya pemerintah untuk mendorong dokter untuk meningkatkan frekuensi membuat resep obat generik bagi pasiennya.
    “Bila semua dokter menyadari pentingnya meresepkan obat generik, maka tindakan tersebut sebenarnya mampu memangkas biaya kesehatan,” ujarnya.”
    Selengkapnya klik di sini

    ========================

    dua.. tentang kerjasama rumah sakit/klinik (selanjutnya kita sebut sebagai center) dengan perusahaan farmasi (selanjutnya farmasi)..
    di sini memang ada seperti itu.. dan aku rasa di luar indonesia pun ada.. karena tanpa ada kerjasama tersebut, gimana bisa mengembangkan obat2an yang ada sekarang?? ingat metodologi penelitian???
    untuk center, keuntungan dari instalasi farmasi (orang taunya apotik yang ada di dalam rumah sakit) jika dikelola dengan baik bisa untuk bayar gaji seluruh karyawannya.. itu kan berarti sangat vital.. sehingga keuntungan dari sektor lain bisa digunakan untuk meningkatkan pelayanan terhadap konsumen.. lalu apa hubungannya dengan dokter sebagai provider yang memberikan pelayanan?? sebenernya hampir nggak ada… jadi.. sah2 aja kalo center mau kerjasama dengan farmasi, toh nantinya juga dikembalikan kepada konsumen dalam hal ini pasien.. yang perlu disorot di sini kerjasama seperti apa?? kalo kerjasamanya dalam bentuk pengembalian keuntungan dari farmasi kepada center dalam rangka komisi penjualan, salahnya di mana??? justru benar kalo residen itu marah, bukan karena masalah bonus dia pribadi, tapi brarti mengurangi pemasukan center, yang berarti juga mengancam kelangsungan hidup center.. bisa2 untuk menutupi kekurangan pemasukan itu center malah menaikkan tarif pelayanan… ketika center2 tutup, dari mana lagi masyarakat dapat pelayanan kesehatan??? malah sebenernya lebih buruk kamu khun yang suka memanfaatkan orang… kamu mau naik gunung kamu suruh aku dan robby yang nyiapin semuanya kamu tinggal bawa pantat doang. center memberikan sarana dan prasarana kepada farmasi supaya obatnya laku trus sebagai timbal baliknya farmasi ngasih komisi.. kalo kamu?? apa yang udah kamu kasih ke aku dan robby sampe2 kamu minta kami nyediain segala keperluan kamu??? adik bukan apa bukan…
    ==========================
    Genghis Khun:
    Ide, inisiatif, inisiator dan konseptor (naik gunung) tuh mahal Bam!
    Lagian bawa apa? kulkas? Khan cuma bawa payung? :P
    Tentang ide CENTER pada dasarnya aku setuju. Tidak ada konsep yang buruk, semua konsep pasti sudah disusun seideal mungkin. Dan untuk prakteknya kembali lagi pada jawabanku yang di atas. Edukasi & Penawaran. Sepakat?

    Jadi dalam kasus di atas residen jelas salah karena pasien MEMINTA “apotik yang murah”. Permintaan pasien lebih diprioritaskan daripada menjaga pemasukan Center.

    Simak juga:
    “Kerjasama di atas bisa diarahkan untuk sesuatu yang positif dan tidak merugikan orang lain, terutama pasien … Apa bisa ?”
    Selengkapnya klik di sini
    juga di sini
    dan di sini
    (Wadhuh, kok jadi CakMoki-isme?? :P )

    =============================

    tiga.. tentang bonus dari medical representative atau akhun sebut sebagai detailer…
    banyak yang orang nggak tau.. farmasi udah menghitung semuanya dengan jelas.. jika harga obat per butir adalah 100 rupiah, maka biaya produksi (bahan mentah dan pembuatan) rata2 adalah 70 rupiah, kemudian biaya promosi 15 rupiah, dan keuntungan bagi farmasi 15 rupiah.. apa maksud biaya promosi?? biaya promosi ini termasuk semua jenis promosi, mulai dari iklan di mana2, pengadaan launching product dengan round table dinner atau mensponsori seminar atau segala macam bentuknya, dan biaya entertainment dokter.. jadi sebenernya, ketika kita ngeresepin obat paten (tetap rasional lho yaaa…) dan kemudian kita diberikan “bonus”, itu kan hak kita.. komisi bagi kita.. jadi, bodoh sekali kalo kamu nggak ambil! yang udah hak malah kamu tolak… yakin kamu mau nolak rejeki?? yang salah itu adalah ketika kamu minta sesuatu duluan kepada farmasi baru kamu resepin.. itu namanya kamu minta disogok… aku ngerti, memang kamu senengnya minta sogokan duluan dan kemudian biasanya bahkan kamu ingkar… tapi kalo misalnya kamu resepin, ternyata jumlahnya cukup banyak, dan sebagai tanda terima kasih karena sudah membantu penjualan kamu dapat sedikit komisi.. apa salah kalo nerima??? selama ini kamu suka minta bolpen dari detailer, minta jajan sama detailer, padahal kamu nggak pernah ngeresepin, mereka ikhlas aja.. jadi sebenernya, siapa yang benalu dalam sistem ini??????? yang kurang baik itu adalah ketika dokter belum apa2 udah disponsori oleh farmasi.. dan yang lebih kurang ajar itu ya seperti kamu.. udah disponsori malah acuh bebek belagak nggak pernah nerima apa pun juga…
    ==========================
    Genghis Khun:
    Setuju penerapan kalimat “ketika kita ngeresepin obat paten (tetap rasional lho yaaa…)” jadi kalimat kemudian sudah ikut terjawab.
    Btw, perilaku masa Co-ass yang patho jangan dibawa-bawa donk.. (Patho Kongenital sih :P )

    Simak juga:
    “Menurut Menkes, harga obat generik bisa ditekan karena obat generik hanya berisi zat yang dikandungnya dan dijual dalam kemasan dengan jumlah besar, sehingga tidak diperlukan biaya kemasan dan biaya iklan dalam pemasarannya. Proporsi biaya iklan obat dapat mencapai 20-30%, sehingga biaya iklan obat akan mempengaruhi harga obat secara signifikan.”
    Selengkapnya klik di sini

    “Armen Muchtar, guru besar farmakologi dan terapeutik FKUI mengatakan hambatan terapi yang rasional disebabkan tidak adanya pendidikan lanjutan bagi dokter maupun resertifikasi. Terapi atau peresepan rasional adalah peresepan yang memadai, sesuai kebutuhan pasien, aman, efektif, ekonomis, dan berdasarkan bukti ilmiah. Akibatnya, data-data yang disodorkan perusahaan farmasi menjadi sumber utama pendidikan berkelanjutan bagi para dokter. (Hr. Kompas 13/9/07)”
    Selengkapnya klik di sini

    ================================

    keempat.. tentang malas menggunakan obat paten..
    gimana kalo obat yang ada belum ada generiknya?? gimana kalo ternyata memang yang ada hanya produk original??? pernah berpikir sampai situ khun???
    ==========================
    Genghis Khun:
    Pengalaman Genghis Khun selalu meresepkan NAMA Generik, bukan OBAT Generik. NAMA generik mencakup Obat Generik dan Paten, memilih Obat Paten bila obat Generik tidak tersedia.
    Bedanya:
    Dokter yang hanya meresepkan nama generik tidak tahu nantinya akan ada bonus atau tidak. Bila ada ya alhamdulillah kita terima. Yang disorot disini dan perlu diwaspadai adalah dokter meresepkan nama dagang karena sudah jelas terbayang total bonusnya :). Perbedaan ini sangat penting.

    “Hmm, mana ya amplop bulananku dari X? Harusnya sudah datang..” *celingak celinguk* :)

    Simak juga:
    “All high-street pharmacists are obliged by law to dispense whatever the doctor has written on the prescription. If your doctor has prescribed a medicine by its brand name, your pharmacist must dispense that brand. However, if a medicine has been prescribed by its generic name, your pharmacist can dispense whatever version of the medicine they have available, because each version will have the same therapeutic effect. For this reason your regular medicines may vary in appearance each time you renew your prescription.”
    Selengkapnya klik di sini

    =========================

    udah ah.. sgitu dulu.. udah panjang banget… selanjutnya ayo kita diskusi berdua khun.. untuk lihat siapa yang berpikiran sempit… kita lihat siapa yang tidak realistis…
    bener kata leppi… itu yang kita idamkan.. ketika pembiayaan pelayanan kesehatan udah nggak perlu dipikir lagi.. jadi nggak peduli obat paten atau obat murah, pelayanan dan terapi bisa diberikan kepada konsumen dalam hal ini pasien secara paripurna..
    di komentarmu sendiri khun.. nggak usah jauh2 di luar jawa sana.. di kabupaten tegal aja, selama masih penduduk kabupaten, biaya pengobatan di puskesmas gratis tis tis khun… tapi kembali.. siapa yang mendanai??? pemerintah khun.. dan pemerintah dapat dari mana dana itu??? nggak mungkin kalo farmasi nggak ada setorannya ke pemerintah… bahkan di sini pemerintah melakukan monopoli lewat kimia farma… jadi.. sebenernya.. siapa yang rezim medis khun?? diriku kah?? dirinya kah??? atau.. jangan2 sebenernya dirimu khun??
    ==========================
    Genghis Khun:
    Diskusi di lereng gunung Salak, rangkul-rangkulan sambil ngeliat gemerlap kota Jakarta kayaknya romantis Bam. :)
    Tegal baru denger. Gimana kabar Tegal? Bagaimana perbandingan pasien yang berobat ke Puskesmas & yang ke Swasta? Yang ke swasta 0% kah?

    ========================

    sedikit kesimpulan..
    paten atau generik.. semua tergantung keadaan.. dan sebenernya nggak mengganggu rasionalitas sama sekali.. yah.. kalo akhun ternyata selama ini pake obat paten dan jadinya tidak rasional, sebaiknya kamu belajar lagi khun.. toh dalam selembar kertas resep bisa kita kombinasikan obat paten dan generik yang rasional sesuai kemampuan pasien…

    sekian.. terima kasih…
    nggak suka??? silakan comment via email..
    lapendos@yahoo.com
    ==========================
    Genghis Khun:
    Isi kesimpulan sepakat. ditambah juga yang tersebut di atas:
    - Edukasi & penawaran
    - Melihat Sosial Ekonomi
    Lha trus beda kita dimana ya Bam*?
    (Hmm.. tapi melihat nada tulisanmu sepertinya kita masih ada yang beda ya..) :P
    Oke jangan lupa juga baca-baca pustaka yang kusertakan di tiap jawaban di atas.
    Mohon maaf apabila artikel yang sebenarnya hanya ungkapan kegundahan telah menyinggung pihak-pihak lain.
    Btw, trims Bam* atas komentarnya. (asiik blogku makin rame nih :) )

    Ket. *Bambam= dr. Arif Abraham Ambril

  5. Erik Prabowo says:

    Haiiii Khuuunnn….

    Lama nggak ketemu teman lama, ajaib bisa ketemu di Internet, he..he… :)
    1. Terimakasih sudah nge-Link Blog-ku yang masih seumur jagung, dan punya Akhun juga sudah ku-Link
    2. Soal dokter hitam putih, rezim… Mmmmmm…istilah yang cukup menarik, tapi aku sih lebih senang milih abu-abu, seperti yang kita dapatkan sejak kuliah dulu Medical is science and art ( semua itu tidak ada yang saklek..) yang penting sih menurutku, Niatnya…Niat nulung…bukan mentung…
    3. Semoga Allah selalu membimbing diriku dan kita semua untuk selalu berjuang sebagai dokter yang berniat untuk menolong sesama dijauhkan dari pertimbangan harta dan keduniawian lainnya. Amin
    4. Salut buat Akhun dan teman2 yang sudah melemparkan topik2 yang BERANI.
    ===========================
    Genghis Khun:
    1. Oke sama-sama nge-link
    2. Aku sukanya mentung, jarah & nodong temen sendiri:P
    3. Amin Erik…hiks jadi terharu, sebab kalo sudah kenal duit rasanya semua doa lupa semua :)
    4. Salut juga buat Erik yang nyempetin nge-blog di tengah kesibukan kuliahnya :)

  6. arlin says:

    waah ramee temen yah opininya?
    ga masalah urusan obat paten atau generik, yang penting kan niat kita untuk nolongin pasien supaya cepet sembuh.. ya ga?
    ===================================
    Genghis Khun:
    Semua dokter, pada dasarnya, pada prinsipnya dan pada hakikatnya menolong pasien tanpa kecuali.
    Tetapi Rezim Medis ‘membunuh’ psikis & materi keluarga pasien :P

  7. dyah says:

    Hai akhun chulun….ikutan dikit aja nich…rasanya sejak th 1997 waktu PTT di lombok,udah sering dech sosialisasi RASIONALISASI OBAT,di puskesmas-puskesmas, pdhal itu di daerah lho…mosok sich udah 10 th lebih di Jakarta lagi !,masih segitunya tentang Rasionalisasi OBAT,jadi mikir nich…Dokter atau detailernya yang ndak rasional..???atau perlu ilmu Navigasi untuk rasionalisasi dokter-detailer???
    Kalau udah kejerat sistem gini,minimal: INNAMAL `amalu bin niyat (sesungguhnya AMAL itu tgt niatnya aja..) dan jalan ke depannya harus sesuai hati nurani paling daleeeem..biar ndak kena penyakit sindrom False hisself(penyakit baru nih…:-)…OK dech,terusin aja pemikiranmu yang rodo2 nyleneh tapi penuh kebenaran lho…(OJO GR YO…Khun…)
    =======================================================
    Genghis Khun:
    Sosialisasi RASIONALISASI OBAT diadakan tiap hari ngaruh gak ya?
    Seperti halnya bunyi spanduk himbauan untuk pasien:
    Mintalah Selalu Resep Obat Generik

  8. arlin says:

    hmmm….sebenernya apa sih definisi singkat dari ‘rezim medis’ yg bisa dimengerti? aku masih ga mudeng nih…:P
    ===================================
    Rezim medis= Rezim di bidang medis :P

  9. arlin says:

    waah kalo gitu ga ada hubungannya dengan artikelku … aku sih ga seserius ini, cuma soal perasaan n pengalaman pribadi aja :)
    =================================
    Genghis Khun:
    Perasaan & pengalaman pribadi menghadapi realitas dalam rezim medis :)

  10. bapakeghozan says:

    kapan yah rakyat Indonesia bebas dari belenggu rezim seperti itu.

    apa harus nunggu seribu oarang seperti Anda.

    salam prihatin,
    bapakeghozan
    ======================================
    Genghis Khun:
    Wah, anda terlalu berlebihan menilai saya Pak.
    Doakan saja agar saya (kita) selalu bisa menghindar dari jerat rezim medis. Trims.

  11. cakmoki says:

    Nulis yang lebih terbuka gak papa Khun … supaya khalayak juga tahu dan menilai.
    masih lebih pedas tulisan sy, mana banyak lagi … hahaha.

    ================================================
    Genghis Khun:
    Berarti nulisnya pake lombok Cak? *halah*
    Oke trims atas komentar dan sarannya….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

  • Genghis Khun

    Paranoid Dalam Mengais Rizqi...


    Nyari Theme BLOG WORDPRESS bagus??

  • Tulisan Terbaru

  • Genghis Khun's Profile
    Genghis Khun's Facebook profile
    Create Your Badge ExitJunction.com  - Make Money From Your Exit Traffic!


  • Masukkan Code ini K1-1E255B-E
    untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com
  • CARI DUIT

    Adf.ly
    Buy Text links www.cashnhits.com
    Rumahweb
    Clixsense
    Exitjunction
    BidVertiser

    Earn money from your website/blog. Get paid through PayPal Buy and sell Text Links Blog Terbaik
    Yuk.Ngeblog.web.id

    make money with your web site

    GoBlog Theme Banner 125x125

    Media Penyimpanan Dunia Maya: DropBox
  • Fan Page