Televisi 3D: Waspadai Pembodohan Publik
“Keunggulan produk ini bisa merubah saluran Televisi 2D menjadi siaran 3D dan dilengkapi WiFi untuk koneksi internet. Meski canggih namun untuk menonton TV 3D tetap diperlukan kacamata khusus 3D.”(1)
Terobosan teknologi yang luar biasa. Pertanyaannya, apakah benar “bisa merubah saluran Televisi 2D menjadi siaran 3D” begitu saja?
–###–
Akhir-akhir ini mulai bermunculan iklan, baik di media cetak maupun eletronik, produk Televisi yang menawarkan gambar 3D (3 Dimensi); Televisi 3D. Cara menontonnya pun diharuskan memakai kacamata khusus 3D.
Tayangan Televisi yang sekarang kita nikmati hanya terdiri dari 2 dimensi, lebar dan tinggi. Gambar 3 dimensi, meskipun permukaannya rata, tetapi bila dilihat, nampaklah sebuah ruangan/ kedalaman dengan obyek timbul seperti nyata. Seperti halnya melihat isi akuarium.
Secara umum, Gambar 3D dibagi menjadi 2 jenis berdasarkan cara melihatnya; yaitu memakai alat dan tidak memakai alat. Televisi 3D termasuk yang memakai alat (kacamata). Penulis menduga, gambar yang dihasilkan oleh Televisi 3D adalah tipe Anaglyph (secara penulis belum berkesempatan untuk melihat produknya secara langsung).
GAMBAR ANAGLYPH
Definisi gambar anaglyph adalah 1 (satu) buah gambar yang dibuat dari
penyatuan 2 (dua) gambar melalui proses filter warna. Kedua Gambar ini diambil pada saat bersamaan tapi dengan sudut pengambilan berbeda .
Gambar atau Film 3 dimensi misalnya Avatar (James Cameron, 2009) atau Polar Express (dibintangi oleh Tom Hank, 2004), diambil 2 gambar ~dengan 2 kamera~, masing-masing gambar akan mengalami proses filter warna, lalu dilebur jadi satu.
Bagannya sebagai berikut:

Proses yang rumit ini, walaupun untuk melihatnya memang memakai kacamata 3D, tapi tidak memerlukan media Televisi 3D atau media yang muluk-muluk. Dengan Televisi biasa anda sudah bisa menikmatinya, karena proses filter warnanya telah dikerjakan di Pusat produksi.
IMPIAN 3 DIMENSI
Dari skema di atas terlihat, bahwa untuk mewujudkan impian tontonan 3 dimensi di rumah, ada 1 pihak yang sebenarnya berperan secara penuh, bukan pada Produsen TV dengan cara memproduksi Televisi 3D, namun lebih pada peran Pihak stasiun TV.
Sumber gambar yang akan ditampilkan harus di’syut’ dengan 2 (dua) kamera pada saat bersamaan. Ke-2 gambar tersebut lalu di filter warnanya, di lebur jadi 1 gambar untuk kemudian dipancarkan ke pesawat Televisi masing-masing. Penonton tetap diharuskan memakai kacamata 3D.
Untuk mudahnya, bayangkan saja seorang kamerawan nantinya akan menggotong dua kamera (Double-Camera) berlarian kesana kemari memburu berita, agar bisa ditampilkan liputan aktual 3 dimensi.
Penting diperhatikan bahwa posisi Double-Camera ini harus senantiasa sejajar dengan bidang horizontal. Miring sedikit sudah tidak bisa menghasilkan gambar 3 dimensi.
TELEVISI 3D (3 DIMENSI)
“Cara kerja dari teknologi 3 dimensi ini adalah mengambil gambar dengan 2 kamera atau lebih, yang nantinya dibagi gambar untuk mata kanan dan mata kiri. Yang menggunakan kacamata khusus untuk menyatukan gambar-gambar tesebutyang akan menciptakan ilusi ke dalam 3 dimensi”.(2)
Jelas sekali bahwa Televisi 3D ini ‘tergantung’ pada dukungan pihak stasiun Televisi. Mengharapkan pancaran 2 gambar dari stasiun TV lalu diolah di pesawat TV 3D menjadi 1 gambar 3 dimensi.
Nah, itu kalau ada dukungan?
Walaupun nantinya ada dukungan pun, Pihak Stasiun TV masih mempunyai dua opsi, ditinjau dari sisi ekonomi yang menguntungkan;
- 2 gambar difilter sendiri menjadi 1 gambar, lalu dipancarkan, ataukah
- 2 gambar langsung dipancarkan? nantinya di filter oleh pesawat TV 3D.
Bila opsi kedua dipilih, kita tentu mengharapkan agar jangan sampai di TV BIASA tampilannya malah jadi buram, karena kedua gambar saling bertumpukan…
TV 3D TANPA DUKUNGAN STASIUN TV
Bila kemunculan produksi TV 3D tanpa dibarengi dukungan stasiun TV, pesawat Televisi 3D ini dipastikan tidak ada gunanya, walaupun tetap akan memproses SATU gambar yang diterima, mem-filter warnanya, tapi gambar yang dihasilkan tetap sama dengan TV biasa.
Konsumen tetap disuguhi tontonan 2 dimensi walaupun warnanya telah difilter. Sudah harga produknya mahal (Harga TV 3D antara 20-30 Juta, kacamatanya 800ribu hingga 2 juta per buah), ironisnya lagi, diawali rebutan kacamata dengan keluarga yang lain, padahal barangnya untuk kemudian tak terpakai…
Kemungkinan masuk akal adalah munculnya Stasiun TV baru khusus siaran 3D dengan beban biaya tambahan untuk mengakses siarannya.
TIPE TV 3D YANG MEMBODOHI PUBLIK
Ini yang perlu kita waspadai, jangan sampai kita menjadi konsumen yang dibodohi, bila teknologi tersebut ternyata hanya membuat modifikasi 2 gambar dari 1 gambar yang ditangkap, lalu masing-masing gambar difilter warnanya untuk digabung menjadi 1 gambar lagi.
Hasil akhir tampilan memang gambar Anaglyph dan untuk menontonnya juga diharuskan memakai kacamata. Tetapi di sini TIDAK ADA EFEK 3 DIMENSI yang bisa diamati!
Perhatikan Perbedaannya di bawah ini:

Kasus seperti ini mengingatkan penulis di era tahun 90-an, ketika menjamurnya produk Tape/ Walkman stereo. Speaker/ Earphone di kedua sisi diklaim memiliki efek Stereo, ini jelas penyesatan/ pembodohan terhadap konsumen. Padahal sewaktu diintip ‘Head‘-nya (Alat yang akan menyentuh Pita kaset bila di ‘Play‘) cuma terdapat 2 kaki ~Head Stereo seharusnya 4 Kaki~.
Produk tersebut sebenarnya hanyalah Tape Mono, 2 kaki Head terhubung masuk Pre-amp, Equalizer kemudian Amplifier. Keluaran Amplifier baru bercabang menjadi dua untuk Speaker kanan dan kiri. Pada Tape Stereo, 4 kaki Head terhubung ke Double-Pre-amp, Double-Equalizer kemudian Double-Amplifier, tentu saja keluaran pun double, suara Speaker kiri kanan berbeda untuk musik-musik tertentu yang mendukung efek stereo.
Apakah anda termasuk konsumen yang saat itu dibodohi? Silahkan cek jumlah kaki Head di Tape ‘Stereo’ anda…
Maka, seperti halnya Tape stereo yang tidak bisa dinilai hanya dengan melihat fisik luarnya atau adanya label “Stereo”, Televisi 3D pun tidak bisa dinilai hanya dengan munculnya gambar Anaglyph atau pemakaian kacamata 3D.
KESIMPULAN
1. TV 3D bisa bekerja bila ada dukungan ‘Double-Camera’ dari Stasiun TV yang memancarkan kedua tangkapan gambarnya.
2. Selama stasiun TV masih menggunakan 1 kamera untuk men-syut segala aktifitasnya, atau ‘Double Camera’ tapi difilter sendiri di Pusat Produksi, maka Pesawat Televisi 3D tidak ada gunanya. Anda hanya akan dibebani biaya tambahan untuk siaran khusus 3D dari stasiun TV Khusus.
3. Seharusnya teknologi ini diaplikasikan pada Pihak Stasiun TV, bukan dengan memproduksi TV 3D.
Genghis Khun
Pengamat Teknologi
Lebih Lanjut:
1. http://www.mediaindonesia.com/read/2010/01/08/115759/48/7/Televisi-3D-akan-Geser-TV-LCD
2. http://rumahteknologi.com/tv-3d-terobosan-tahun-2010-336.html
3. http://en.wikipedia.org/wiki/Anaglyph
4. Program Anaglyph Maker v1.08, http://www.stereoeye.jp/
5. http://electronics.howstuffworks.com/3d-tv.htm
ARTIKEL TERKAIT
Filed under Web & Teknologi |3 Responses to “Televisi 3D: Waspadai Pembodohan Publik”
Leave a Reply












sedikit pencerahan boss,
yg dimaksud tv 3d teknologi 3d-nya ada apa screen monitornya (kayak gambar 3d-hologram pada mister anak2, atau pada gambar2 yg mengunakan lenticular lens)
jadi dalam hal ini anda tidak perlu kacamata 3d, (coba bro googling tipe2 3d stereoscopic) klo yg bro maksud pakemata itu teknologi 20 tahun yg lalu.
bandingkan dengan teknoli nintendo 3ds yg akan dirilis, jadi klo bro mau monton bareng dgn teman2 gak perlu repot2 nyiapin kacamata3d.
untuk tayangan yg tidak bersifat stereoscopic tv3d akan automatis switch ke screen tv2d (monitor biasa)
tv3d lebih banyak support pada high end console game,
kedepan teknologi camera juga akan support hingga dual camera dengan cara jarak antar lens 2 inch.
=================================================
Genghis Khun:
Komentar yang luar biasa namun sayang tidak disertai link yang bisa dijadikan rujukan.
Silahkan baca rujukan terakhir artikel tersebut:
http://electronics.howstuffworks.com/3d-tv.htm
sorry gw lupa link nya tapi bro bisa cari digoogle systim 3d terbaru buat tv, full parallax 3dtv, hitachi paralax 3dtv udah mo dirilis, dan mungkin kedepan systim kayak parallax atau lenticular yg akan dipakai untuk 3dtv ketimbang anaglyph yg ribet dgn kacamatanya.
oh iyah untuk paralax atau lentikular kita gak butuh kacamata lagi (gambar hologram aja bisa dilihat tanpa kacamata3d iyah kahan??)
klo sony masih memakai anaglyph technology (teknologi lama nih)
=================================================
Genghis Khun:
Trims atas infonya…
AutostereoskopiK (Autostereoscopic) adalah metode untuk melihat tampilan 3D tanpa alat bantu (kaca mata).
Teknologinya dinamakan Parallax barrier dan Lensa Lenticular (Lenticular lens)
Sampai saat ini teknologinya belum diterapkan ke produk Televisi. Masih berupa produk dan pasaran terbatas; misalnya laptop 3D LCD (Sharp), 3D mobile phone (Hitachi) dan kamera digital Fujifilm FinePix Real 3D W1 (Fujifilm), dan Nintendo 3DS (Nintendo).
Semuanya mempunyai prinsip kerja yang sama; membutuhkan dua atau lebih sumber gambar.
Baca lebih lanjut di:
http://en.wikipedia.org/wiki/Autostereoscopic
mas genghis, saya mo tanya nih. kebetulan saya sering nonton film di bioskop yg menggunakan kaca mata 3d. misalnya film avatar, alice in wonderland, dan yg terakhir film toy story 3.
filmnya sendiri kalo di liat ga lagi menggunakan warna merah dan biru… dan di kacamata pun lensanya bening… seperti kacamata untuk membaca.
mungkin teknologinya udah beda kali dengan teknologi jaman dulu yg masih memakai warna merah dan biru. saya juga kurang tau dengan teknologi 3d yg sekarang.
tetapi saya pernah dengar kalo kacamata 3d yg sekarang, yg digunakan di bioskop2 menggunakan filter horizontal dan vertikal. entah lensa yg sebelah kiri yg horizontal dan yang sebelah kanan lensa yg vertikal… atau sebaliknya.
jadi apakah teknologi yg sekarang dengan yg dulu dan istilah yg dipakai jelas2 beda. terima kasih
=================================================
Genghis Khun:
Saya sudah browsing kemana-mana, tapi belum nemu kacamata bening untuk nonton 3D.
mungkin ada pembaca yg bisa bantu??