Televisi 3D: Waspadai Pembodohan Publik

“Keunggulan produk ini bisa merubah saluran Televisi 2D menjadi siaran 3D dan dilengkapi WiFi untuk koneksi internet. Meski canggih namun untuk menonton TV 3D tetap diperlukan kacamata khusus 3D.”(1)

Terobosan teknologi yang luar biasa. Pertanyaannya, apakah benar “bisa merubah saluran Televisi 2D menjadi siaran 3D” begitu saja?







–###–

Akhir-akhir ini mulai bermunculan iklan, baik di media cetak maupun eletronik, produk Televisi yang menawarkan gambar 3D (3 Dimensi); Televisi 3D.

Tayangan Televisi yang sekarang kita nikmati hanya terdiri dari 2 dimensi, lebar dan tinggi. Gambar 3 dimensi, meskipun permukaannya rata, tetapi bila dilihat, nampaklah sebuah ruangan/ kedalaman dengan obyek timbul seperti nyata. Seperti halnya melihat isi akuarium.

Secara umum, Gambar/ tampilan 3D dibagi menjadi 2 jenis berdasarkan cara melihatnya; yaitu memakai alat (kacamata, stereoskop dll) dan tidak memakai alat.

Memakai Kacamata (Stereoscopic)
- Anaglyph (Kacamata Red-Cyan)
- Polarization (Kacamata terpolarisasi pasif), untuk bioskop 3D.
- Alternate-frame sequencing (lensa active shutter)

Tanpa Kacamata: Autostereoscopic atau Auto 3D
Teknologi TV 3D sbb:
- lenticular lenses
- parallax barriers

Sampai saat ini teknologi Auto 3D belum diterapkan ke produk Televisi. Masih berupa produk dan pasaran terbatas; misalnya laptop 3D LCD (Sharp), 3D mobile phone (Hitachi) dan kamera digital Fujifilm FinePix Real 3D W1 (Fujifilm), dan Nintendo 3DS (Nintendo).(6)

Diluar itu semua, baik yang memakai kacamata maupun yang tidak, keduanya mempunyai persamaan yaitu membutuhkan program siaran TV yang menggunakan lebih dari satu kamera. Dengan kata lain, TV 3D membutuhkan ‘pasokan’ dua atau lebih sumber gambar. Bagaimana dengan siaran TV di Indonesia sendiri?

Mari perhatikan. Berikut ini akan dikupas cara kerja salah satu tampilan 3D, yaitu yang memakai kacamata Red-Cyan.

GAMBAR ANAGLYPH
Definisi gambar anaglyph adalah 1 (satu) buah gambar yang dibuat dari
penyatuan 2 (dua) gambar melalui proses filter warna. Kedua Gambar ini diambil pada saat bersamaan tapi dengan sudut pengambilan berbeda .

Gambar atau Film 3 dimensi misalnya Avatar (James Cameron, 2009) atau Polar Express (dibintangi oleh Tom Hank, 2004), diambil 2 gambar ~dengan 2 kamera~, masing-masing gambar akan mengalami proses filter warna, lalu dilebur jadi satu.
Bagannya sebagai berikut:

Proses yang rumit ini, walaupun untuk melihatnya memang memakai kacamata 3D, tapi tidak memerlukan media Televisi 3D atau media yang muluk-muluk. Dengan Televisi biasa anda sudah bisa menikmatinya, karena proses filter warnanya telah dikerjakan di Pusat produksi Film.

IMPIAN 3 DIMENSI
Dari skema di atas terlihat, bahwa untuk mewujudkan impian tontonan 3 dimensi di rumah, ada 1 pihak yang sebenarnya berperan secara penuh, bukan pada Produsen TV dengan cara memproduksi Televisi 3D, namun lebih pada peran Pihak stasiun TV.

Sumber gambar yang akan ditampilkan harus di’syut’ dengan 2 (dua) kamera pada saat bersamaan. Ke-2 gambar tersebut lalu di filter warnanya, di lebur jadi 1 gambar untuk kemudian dipancarkan ke pesawat Televisi masing-masing. Penonton tetap diharuskan memakai kacamata 3D.

Untuk mudahnya, bayangkan saja seorang kamerawan nantinya akan menggotong dua kamera (Double-Camera) berlarian kesana kemari memburu berita, agar bisa ditampilkan liputan aktual 3 dimensi.

Penting diperhatikan bahwa posisi Double-Camera ini harus senantiasa sejajar dengan bidang horizontal. Miring sedikit sudah tidak bisa menghasilkan gambar 3 dimensi.

TELEVISI 3D (3 DIMENSI)
“Cara kerja dari teknologi 3 dimensi ini adalah mengambil gambar dengan 2 kamera atau lebih, yang nantinya dibagi gambar untuk mata kanan dan mata kiri. Yang menggunakan kacamata khusus untuk menyatukan gambar-gambar tesebutyang akan menciptakan ilusi ke dalam 3 dimensi”.(2)

Jelas sekali bahwa Televisi 3D ini ‘tergantung’ pada dukungan pihak stasiun Televisi. Mengharapkan pancaran 2 gambar dari stasiun TV lalu diolah di pesawat TV 3D menjadi 1 gambar 3 dimensi.
Nah, itu kalau ada dukungan?
Walaupun nantinya ada dukungan pun, Pihak Stasiun TV masih mempunyai dua opsi, ditinjau dari sisi ekonomi yang menguntungkan;
- 2 gambar difilter sendiri menjadi 1 gambar, lalu dipancarkan, ataukah
- 2 gambar langsung dipancarkan? nantinya di filter oleh pesawat TV 3D.

Bila opsi kedua dipilih, kita tentu mengharapkan agar jangan sampai di TV BIASA tampilannya malah jadi buram, karena kedua gambar saling bertumpukan…

TV 3D TANPA DUKUNGAN STASIUN TV
Bila kemunculan produksi TV 3D tanpa dibarengi dukungan stasiun TV, pesawat Televisi 3D ini dipastikan tidak ada gunanya, walaupun tetap akan memproses SATU gambar yang diterima, mem-filter warnanya, tapi gambar yang dihasilkan tetap sama dengan TV biasa.

Konsumen tetap disuguhi tontonan 2 dimensi walaupun warnanya telah difilter. Sudah harga produknya mahal (Harga TV 3D antara 20-30 Juta, kacamatanya 800ribu hingga 2 juta per buah), ironisnya lagi, diawali rebutan kacamata dengan keluarga yang lain, padahal barangnya untuk kemudian tak terpakai…

Kemungkinan masuk akal adalah munculnya Stasiun TV baru khusus siaran 3D dengan beban biaya tambahan untuk mengakses siarannya.

TIPE TV 3D YANG MEMBODOHI PUBLIK
Ini yang perlu kita waspadai, jangan sampai kita menjadi konsumen yang dibodohi, bila teknologi tersebut ternyata hanya membuat modifikasi 2 gambar dari 1 gambar yang ditangkap, lalu masing-masing gambar difilter warnanya untuk digabung menjadi 1 gambar lagi.

Hasil akhir tampilan memang gambar Anaglyph dan untuk menontonnya juga diharuskan memakai kacamata. Tetapi di sini TIDAK ADA EFEK 3 DIMENSI yang bisa diamati!

Perhatikan Perbedaannya di bawah ini:

Kasus seperti ini mengingatkan penulis di era tahun 90-an, ketika menjamurnya produk Tape/ Walkman stereo. Speaker/ Earphone di kedua sisi diklaim memiliki efek Stereo, ini jelas penyesatan/ pembodohan terhadap konsumen. Padahal sewaktu diintip ‘Head‘-nya (Alat yang akan menyentuh Pita kaset bila di ‘Play‘) cuma terdapat 2 kaki ~Head Stereo seharusnya 4 Kaki~.

Produk tersebut sebenarnya hanyalah Tape Mono, 2 kaki Head terhubung masuk Pre-amp, Equalizer kemudian Amplifier. Keluaran Amplifier baru bercabang menjadi dua untuk Speaker kanan dan kiri. Pada Tape Stereo, 4 kaki Head terhubung ke Double-Pre-amp, Double-Equalizer kemudian Double-Amplifier, tentu saja keluaran pun double, suara Speaker kiri kanan berbeda untuk musik-musik tertentu yang mendukung efek stereo.

Apakah anda termasuk konsumen yang saat itu dibodohi? Silahkan cek jumlah kaki Head di Tape ‘Stereo’ anda…

Maka, seperti halnya Tape stereo yang tidak bisa dinilai hanya dengan melihat fisik luarnya atau adanya label “Stereo”, Televisi 3D pun tidak bisa dinilai hanya dengan munculnya gambar Anaglyph atau pemakaian kacamata 3D.

KESIMPULAN
1. TV 3D bisa bekerja bila ada dukungan ‘Double-Camera’ dari Stasiun TV yang memancarkan kedua tangkapan gambarnya.
2. Selama stasiun TV masih menggunakan 1 kamera untuk men-syut segala aktifitasnya, atau ‘Double Camera’ tapi difilter sendiri di Pusat Produksi, maka Pesawat Televisi 3D tidak ada gunanya. Anda hanya akan dibebani biaya tambahan untuk siaran khusus 3D dari stasiun TV Khusus.
3. Seharusnya teknologi 3 dimensi diaplikasikan pada Pihak Stasiun TV, bukan dengan memproduksi TV 3D.

Genghis Khun
Pengamat Teknologi

Lebih Lanjut:
1. http://www.mediaindonesia.com/read/2010/01/08/115759/48/7/Televisi-3D-akan-Geser-TV-LCD
2. http://rumahteknologi.com/tv-3d-terobosan-tahun-2010-336.html
3. http://en.wikipedia.org/wiki/Stereoscopy
4. http://en.wikipedia.org/wiki/Anaglyph_image
5. http://en.wikipedia.org/wiki/Polarized
6. http://en.wikipedia.org/wiki/Autostereoscopy
7. http://en.wikipedia.org/wiki/Parallax_barrier
8. http://en.wikipedia.org/wiki/Lenticular_lens
9. http://electronics.howstuffworks.com/3d-tv.htm
10. http://en.wikipedia.org/wiki/3D_television
11. Program Anaglyph Maker v1.08, http://www.stereoeye.jp/







You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Yap benar sekali, gak usah butuh TV, pakai software biasa juga bisa. saya sudah membuat filternya yang bisa mengolah baik 1 gambar input maupun 2 gambar input menjadi Anaglyphs.

http://augindonesia.org/anaglyphs-with-pixel-bender/

Satu lagi menambahkan, saya sangat tidak menyarankan dan ini sangat berbahaya untuk di konsumsi terus menerut, karena bisa merusak saraf mata ke otak. selama riset pembuatan filter 3d ini saya harus berobat dan istirahat mata selama 1 minggu.

=================================================
Genghis Khun:
Waduh ?!?!
Semoga lekas sembuh ya pak…

Syaiful Haq says:

setahu saya TV 3D yang beredar di Indo belum didukung dengan content 3D dari perusahaan TV,jadi film 3D bisa di nikmati melalui keping blueray 3D film yang diplay dan dikoneksikan melalui HDMI port.atau dengan memainkan content 3D dari USB flasdisc melalui Digital Multimedia Player LCD/LED 3D TV…sdangkan content 3D dah banya tersebar di internet.
panel LED terpolarisasi yang di pasangkan dengan kacamata 3D pasive circular polarized akan memberikan mata kanan dan mata kiri informasi yang berbeda pada saat yang bersamaan melalui proses filter polarisasi tadi..

algif says:

terlepas dari judul artikel ini “TV 3D; Waspadai Pembodohan Publik” tapi sejak muncul nya AVATAR 3D yang sukses bgt sekarang jadi byk bermunculan film 3D, bahkan film lama pun di daur ulang menjadi 3D. Tapi ada 1 artikel yang pernah saya baca dan cukup menarik mengenai 3D judulnya “Keuntungan menghadirkan Cinema 3D Di rumah mampu meningkatkan konsentrasi anak” link nya di http://bit.ly/r6WNL2

purwacarita says:

Dan untuk menghasilkan film 3D membutuhkan kamera jenis khusus, yaitu : stereoscopic kamera.

Kalo efek pusing dalam film 3d tergantung pembuat filmnya, dalam pembuatan film 3D ada positive parallax, zero parallax, dan negative parallax. Itu harus diperhitungkan dalam pembuatan film jadi biar penonton nggak mabok begitu keluar dari bioskop 3D hihihi….
- Positive parallax : gambar terlihat di dalam layar
- zero parallax : gambar pada posisi layar
- negative parallax : gambar terlihat keluar dari layar

Mata pada umumnya kurang nyaman untuk menerima negative parallax dalam waktu yang lama. Walaupun efek ini sangat bagus untuk mendramatisir film. jadi kalo terlalu banyak menggunakan teknik negative parallax bisa menimbulkan efek pusing.

Untuk itu dalam pembuatan film 3d diperlukan penghitungan yang matang akan far distance (positive parallax), projection (zero) dan near distance (negative parallax)

purwacarita says:

maaf urun rembug saat ini teknologi 3D bisa dikelompokoan jadi 3 :
1. Anaglyph
2. Dolby 3D
3. Polarize (RealD)
Semuanya ada positif negatifnya :
Anaglyph : Bisa di putar di semua jenis TV (kecuali hitam-putih hehehee…), untk menontonnya membutuhkan kacamata anaglyph : red-cyan (paling banyak filmnya), gren-magenta dan amber-blue… harga kacamata murah bahkan bisa dibikin sendiri pake kertas mika

Dolby 3d
Hampir sama seperti anaglyph tapi memerlukan TV khusus dan proyektor khusus. jenis kacamata ini harganya cukup mahal dan tidak dijual bebas di pasaran (soalnya lensanya khusus bisa buka tutup dengan kecepatan 1/144 detik), cara kerjanya dengan membatasi panjang gelombang RGB

RealD (polarized)
Hanya bisa di gunakan di tv 3D, carakerjanya membagi gambar vertikal dan horisontal.

(^__^)”

ari says:

wah makin panas nih, ane penggemar yg berbau 3d. Saya setuju dgn mas genghis kalo… tv3d saat ini blon bs menikmati siaran 3d, krna lum didukung oleh kualitas siaran tv lokal yg masih 2d. jd useless. cuuman bs buat nnton film/ games dgn bantuan player 3d tentunya. nah gw sering bgt nnton cinema 3d di bioskop. memang sih skrg udah ga pake red cyan lg. karena sudah pake teknologi polarized, dimana gambar dihasilkan dari 2 proyektor yg berbeda, 1 sumber gambar polarisasi vertikal, dan satunya horizontal. 2 gambar itu ditangkap oleh kacamata 3d polarized, dan digabungkan sebagai efek 3d yg qta lihat. Tentang penampakan red/cyan ketika di foto/blitz ane juga baru tau. mgkin itu partikel2 kecil dalam kacamata. setau ane klo liat bioskop bening gan.

nah ini yg mw ane tanya ttg teknology layar 3d di laptop, ada yg tau ga. beberapa ane googling mereka pake player khusus utk mengubah tampilan gambar menjadi stereoskopi, salah satunya pake Tridef 3d (DDD) … cuman stlh ane google.. masih jarang lcd yg punya kemampuan 3d polarized. jd masih pake 3d red/cyan … karena utk 3d polrized harus ada input 2 gambar yg polarisasinya berbeda, bukan warnanya berbeda …. thx gann share nya

zicky says:

kacamata 3D dioskop bening?

awalny jg ane nyangka gitu, dilihat sekilas kaya yg bening..
tp nyatanya waktu ane narsis foto dalem bioskop, pas lampu blitz dari kamera jepret, nampaklah hasil foto kalo kacamata 3D itu memang betul RED-CYAN.

jadi kacamata 3D bioskop itu sebetulnya memang RED-CYAN

http://img692.imageshack.us/img692/5813/240820118071.jpg

itang says:

Rame juga nih pembahasannya, kebetulan saya orang yg tidak ngerti sama sekali tentang tekhnologi 3D jadi agak bingung juga, gini aja deh bang Genghis dan rekan2 yang lain…, saya mau tanya nih, kalo saya punya film Toys Story 3 format MKV yang 3D, di puter dari port USB TV yang 3D contoh TV Plasma samsung seri D490 dan TV yang tidak 3D contoh Plasma samsung D450 dan sama2 pake kacamata 3D ada bedanya ngak dari sisi penglihatan kita, maksudnya saat nonton nya, efek 3D nya beda ngak atau gimana? mohon pencerahannya dan penjelasannya, soalnya saya mau beli TV, tp masih bingung tentang TV 3D. o ya 2 contoh TV plasma di atas spec dan fiturnya semua sama, kecuali 3D nya aja untuk yang D490…

=================================================
Genghis Khun:
Salam kenal pak Itang…
Jawabannya SAMA SAJA.
Film Toys Story yang 3D, baik di puter di TV 3D maupun TV biasa hasil penglihatan efek 3D sama saja.

TV 3D itu diproduksi dengan harapan nantinya ada Stasiun TV yang siaran memakai double-kamera dalam setiap aktifitasnya. Tapi sayangnya sampai sekarang blm ada.

zainal says:

Memang benar apa yg ditulis. TV 3D tidak akan berfungsi jika inputnya hanya berupa 1 sumber gambar. TV 3D akan memunculkan efek 3D jika stasiun TVnya juga memakai teknologi 3D bukan teknologi pengolahan gambar biasa seperti stasiun2 TV di Indonesia. Di US (kebetulan saya baru pulang dari sana … ), penonton hanya bisa melihat efek 3D di TV 3D mereka dari stasiun TV yang khusus menyiarkan siaran dalam format 3D.
Untuk di Indonesia, 3D TV hanya akan bermanfaat untuk nonton film. Itupun dengan catatan, tetap makai kacamata 3D, disc filmnya harus dalam format 3D dan pemutar (playernya) juga 3D ready.
Konfigurasi terbaiknya: 3D TV (plus kacamata 3D) + 3D Bluray movies + 3D Bluray player. Dengan ini Anda betul2 bisa menikmati tayangan Real 3D dalam format High Definiton seperti yang disuguhkan oleh bioskop. Catatan juga: judul2 film dalam format 3D Bluray masih sangat terbatas!

=================================================
Genghis Khun:
Salam kenal pak Zainal
Trims atas komentarnya…

Erick Stanza says:

Yang jelas, selama lihat di pameran, workshop, atau show-room tv 3d, penjualnya memang jarang bahkan hampir nggak pernah ajak pengunjung untuk menyaksikan kwalitas 3d langsung acara dari tv sih. Memang benar, mau beli tv 3d jadi ragu, mubazir apa nggak..

3D Lover says:

Sedikit berkomentar, saya setuju dengan beberapa komentar dari perespon artikel dari penulis.. Mungkin penulis ingin mengapresiasikan tehnologi 3D buat siaran televisi saja. tapi janganlah mengambil kesimpulan yang digeneralisir. produsen tv membuat tehnologi 3D untuk televisi bukan sekadar untuk menonton siaran televisi.Tetapi Tv adalah sebagai media untuk mendisplay berbagai media audio visual seperti video dan game. jadi tidak mungkin adanya maksud pembodohan publik oleh produsen TV. mungkin untuk media siaran televisi masih belum berkembang secepat industri film , video dan game yang sudah maju dengan pesatuntuk mengadopsi tehnologi 3D.

3D says:

Mas,teknologi 3d yg anda bicarain udah kelewat jaman tuh, itu teknologi 3d yg pake kacamata red – cyan, kalo yang di bioskop skarang mah kacamatanya udah bening, skali-skali coba nonton dulu ke cineplex yang 3d biar tau model kacamatanya, ato cari di wikipedia.
Trus masalah TV 3D, teknologi 3d yg dipake juga bukan yg jaman jebot yg mas bicarain, trus kaamatanya mahal juga karna ternologinya beda, kacamatanya bening, dan menggunakan teknologi active shutter, lebih bagus dari real3d yg dipake di bioskop, karna bisa mengiliminasi efek ghosting lebih baik, TV nya juga pada dipake untuk nonton film HD, ato maen game HD kaya PS3,memang di US udah ada juga siaran TV 3D HD juga, tapi diindo blon ada..tapi bukan berarti pembodohan publik, pada umumnya juga publik juga udah tau kalo mereka beli TV puluhan juta fungsinya buat apa…,jangankan TV yang 3d, TV LCD/LED/Plasma yg ga 3D juga kalo dipake nonton siaran tv lokal mah gambarnya jadi aneh, melar, karna rationya berbeda, dan pada umunya mereka yg beli tv jenis ini juga tujuan utamanya bukan buat nonton tv lokal….
jadi kesimpulannya yg dikasihtau tigade itu bener, jangan ngeyel..
Laen kali kalo bikin artikel, googling dulu, cari infonya, telaah, pelajari,ambil kesimpulan,baru bikinartikel,bikin artikel jangan cuma asal jiplak doank, hasilnya jadi sepotong sepotong gitu….

=================================================
Genghis Khun:
Trims atas koreksinya dan artikel sudah diperbaiki.
Langsung saja pak/ Bu (to the point), anda tunjukkan link teknologi baru tsb agar nampak bahwa Pustaka-pustaka yang saya rujuk sudah jaman jebot :)

Btw, Yang ditekankan di artikel di atas adalah ada/ tidaknya dukungan dari stasiun TV dengan dual/ multi Kamera.

faisal says:

mas genghis, saya mo tanya nih. kebetulan saya sering nonton film di bioskop yg menggunakan kaca mata 3d. misalnya film avatar, alice in wonderland, dan yg terakhir film toy story 3.
filmnya sendiri kalo di liat ga lagi menggunakan warna merah dan biru… dan di kacamata pun lensanya bening… seperti kacamata untuk membaca.
mungkin teknologinya udah beda kali dengan teknologi jaman dulu yg masih memakai warna merah dan biru. saya juga kurang tau dengan teknologi 3d yg sekarang.
tetapi saya pernah dengar kalo kacamata 3d yg sekarang, yg digunakan di bioskop2 menggunakan filter horizontal dan vertikal. entah lensa yg sebelah kiri yg horizontal dan yang sebelah kanan lensa yg vertikal… atau sebaliknya.

jadi apakah teknologi yg sekarang dengan yg dulu dan istilah yg dipakai jelas2 beda. terima kasih

=================================================
Genghis Khun:
Saya sudah browsing kemana-mana, tapi belum nemu kacamata bening untuk nonton 3D.
mungkin ada pembaca yg bisa bantu??

Ega Zulfikar says:

Salam Pak Genghis Khun..

bukannya kacamata active shutter dan polarized memang bening (meskipun tidak benar2 bening)?
hanya saja mungkin maksud Pak Faisal bening adalah tidak menggunakan filter warna sehingga warna yang ditangkap mata tetap natural seperti apa yang ada.

Ega Zulfikar says:

oh, maaf ternyata suda diralat :D hehe..
tapi saya salut pak tulisan blog ini banyak berbobot
=================================================
Genghis Khun:
Salam kenal Pak Ega Zulfikar
trims telah mampir :)

tiga de says:

sorry gw lupa link nya tapi bro bisa cari digoogle systim 3d terbaru buat tv, full parallax 3dtv, hitachi paralax 3dtv udah mo dirilis, dan mungkin kedepan systim kayak parallax atau lenticular yg akan dipakai untuk 3dtv ketimbang anaglyph yg ribet dgn kacamatanya.

oh iyah untuk paralax atau lentikular kita gak butuh kacamata lagi (gambar hologram aja bisa dilihat tanpa kacamata3d iyah kahan??)

klo sony masih memakai anaglyph technology (teknologi lama nih)

=================================================
Genghis Khun:
Trims atas infonya…
AutostereoskopiK (Autostereoscopic) adalah metode untuk melihat tampilan 3D tanpa alat bantu (kaca mata).
Teknologinya dinamakan Parallax barrier dan Lensa Lenticular (Lenticular lens)
Sampai saat ini teknologinya belum diterapkan ke produk Televisi. Masih berupa produk dan pasaran terbatas; misalnya laptop 3D LCD (Sharp), 3D mobile phone (Hitachi) dan kamera digital Fujifilm FinePix Real 3D W1 (Fujifilm), dan Nintendo 3DS (Nintendo).
Semuanya mempunyai prinsip kerja yang sama; membutuhkan dua atau lebih sumber gambar.

Baca lebih lanjut di:
http://en.wikipedia.org/wiki/Autostereoscopic

tiga de says:

sedikit pencerahan boss,
yg dimaksud tv 3d teknologi 3d-nya ada apa screen monitornya (kayak gambar 3d-hologram pada mister anak2, atau pada gambar2 yg mengunakan lenticular lens)

jadi dalam hal ini anda tidak perlu kacamata 3d, (coba bro googling tipe2 3d stereoscopic) klo yg bro maksud pakemata itu teknologi 20 tahun yg lalu.

bandingkan dengan teknoli nintendo 3ds yg akan dirilis, jadi klo bro mau monton bareng dgn teman2 gak perlu repot2 nyiapin kacamata3d.

untuk tayangan yg tidak bersifat stereoscopic tv3d akan automatis switch ke screen tv2d (monitor biasa)

tv3d lebih banyak support pada high end console game,
kedepan teknologi camera juga akan support hingga dual camera dengan cara jarak antar lens 2 inch.

=================================================
Genghis Khun:
Komentar yang luar biasa namun sayang tidak disertai link yang bisa dijadikan rujukan.
Silahkan baca rujukan terakhir artikel tersebut:
http://electronics.howstuffworks.com/3d-tv.htm